KGB Museum and Genocide Victims, Vilnius, Lithuania, a dark place of human torture and haunted ghosts

What ? Haunted ghosts ? Well, some of you may not believe, but our camera captured some appearances of these souls. We don’t know exactly what it is, even a museum staff couldn’t explain about that. “It’s out of our exhibition. I can’t explain. If you ask me about KGB history and what happened during Soviet regime in Lithuania, it’ll be my pleasure to inform you,” said the museum staff when we asked about a woman-like stood behind the locked prison cell that was caught on our camera phone. Before we go further to that story, let me tell you about this KGB Museum in first place.

KGB Museum Vilnius
KGB Museum Vilnius (foto : vilnius-tourism.lt)

KGB merupakan agen rahasia Uni Soviet di masa lalu untuk memproteksi negara dari ancaman-ancaman internal dan eksternal. KGB ini fungsinya mengumpulkan segala informasi dari seluruh dunia, memata-matai pergerakan setiap orang, kemudian mengeksekusi pihak-pihak yang dianggap bisa merusak kelanggengan hidup pemerintah komunis Soviet pada masa sekitar tahun 1944 hingga 1991.

KGB menempatkan agent nya di manapun, terutama di negara-negara jajahan Uni Soviet, seperti Estonia, Latvia dan Lithuania. “Kantor” KGB inilah yang kemudian diabadikan sebagai museum untuk memperlihatkan fakta-fakta pada masa kekuasaan Soviet.

If you ask people about three-letter words that is connected to Russia you most likely get KGB for the answer. It’s soviet worldwide well-known secret agent until now even this organization already ceased to exist. KGB is an abbreviation of Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti or the Committee of State Security. Vladimir Putin, the incumbent President of Russia, was a former intelligence officer of KGB.

Sebenarnya, yang begitu antusias ingin mengunjungi KGB Museum ini adalah Zola, anak saya, karena memang Zola penggemar berat museum sejarah perang. Zola sangat excited mengeksplor segala sisi museum. Dari usaha mengunjungi KGB Museum di Estonia dan Latvia, hanya KGB Museum di Lithuania lah yang berhasil kami datangi. Sementara kami tidak mendapatkan slot berkunjung di KGB museum Estonia karena tempatnya yang sangat sempit dan KGB Museum Latvia sedang tutup saat kami ke sana.

KGB Museum Riga, Latvia
KGB Museum Riga, Latvia

KGB Museum Tour

Hari itu, museum cukup ramai pengunjung, kami mengantri untuk membeli tiket masuk yang tidak begitu mahal untuk ukuran museum di Eropa, 4 EUR untuk dewasa dan 1 EUR untuk anak, dan di sinilah petualangan kami dimulai. Petualangan yang cukup mencekam dan membuat kami merinding bukan cuma karena cerita yang ditinggalkan di tempat ini dengan dukungan aura museum yang suram, tetapi juga karena penampakan yang muncul tiba-tiba.

mengantri tiket
mengantri tiket masuk KGB Museum

Museum ini terdiri dari tiga lantai, lantai satu dan lantai dua memamerkan koleksi benda-benda peninggalan para partisan perang yang gugur melawan pemerintah USSR, sementara lantai tiga saat itu ditutup untuk umum.

Museum ini memang memperlihatkan perjuangan para partisan Lithuania dan kekejaman pemerintah USSR terhadap rakyat Lithuania dan partisan Lithuania pada khususnya. Dengan jumlah pasukan yang jauh lebih sedikit dan persenjataan yang jauh dari memadai dibandingkan tentara USSR menyebabkan banyaknya pejuang Lithuania yang gugur dan ditangkap oleh USSR dan intel KGB. Mereka yang ditangkap hanya tinggal menunggu eksekusi mati, tidak ada bedanya dengan mereka yang gugur di medan perang.

 

Para korban dari kekejian pemerintah Soviet saat itu bukan hanya tentara dan rakyat biasa yang dianggap anti soviet, melainkan juga para pemuka agama katholik ikut ditangkap dan mengalami penyiksaan perlahan namun pasti.

Ruangan-ruangan museum ini sebenarnya tidak terlalu besar namun dua lantai museum itu penuh memajang benda-benda peninggalan korban, dari jam hingga kitab suci, foto-foto dan berbagai informasi tentang masa Soviet 1944 – 1991.

Sebelum Soviet berkuasa, bangunan museum ini dikuasai oleh Gestapo, secret service Jerman pada masa Nazi, dari tahun 1941 – 1944. Selain cerita tentang kekejaman para intel KGB, diperlihatkan juga jejak-jejak kekejaman intel Nazi. Kedua nya sama-sama keji, Lithuania tidak punya pilihan. Tahun 1944, Soviet datang dan mengambil alih markas Gestapo menjadi Markas KGB, dengan menerapkan kekejaman yang serupa.

Tercatat ratusan ribu orang tewas, ratusan ribu dipenjara dan diinterogasi, puluhan ribu dideportasi, puluhan ribu mati baik di penjara maupun dalam perjalanan deportasi.

 

This slideshow requires JavaScript.

Underground prison and torture chamber

Puas mengeksplorasi bagian atas museum, saya turun ke ruang bawah tanah, penjara Gestapo & KGB, tempat para tahanan menunggu proses eksekusi sambil mengalami berbagai penyiksaan yang brutal. Pencahayaan yang tidak begitu terang dan cat mengelupas di dinding tangga menuju ke penjara bawah tanah cukup menjadi intro membuat saya bergidik, bukan takut hantu, tapi membayangkan yang terjadi di masa lalu.

KGB Prison
menuju ke KGB prison, penjara bawah tanah

Kami turun tidak bersamaan. Ayah dan Zola sudah lebih dulu turun ke basement karena Zola sangat tidak sabar melihat ruang para tahanan. Saya turun setelahnya dan suami menyusul setelah puas merekam lantai atas museum.

Sebelum masuk lebih jauh ke dalam lorong, di muka lorong terdapat dua ruangan sempit, konon katanya dipakai sebagai ruang tunggu tahanan sebelum berganti baju, diurus dokumentasi nya termasuk pengambilan foto. Ruangan ini hanya seluas 1×1 meter dan tidak ada penerangan sama sekali. Calon tahanan menunggu di dalam ruang sempit gelap gulita berjam-jam hingga saatnya dipanggil. Tidak ada kepastian kapan saat dipanggil datang.

KGB Museum, Vilnius, Lithuania
Ruangan berukuran 1×1 m ini merupakan tempat para tahanan menunggu giliran pencatatan administrasi, foto dan berganti baju tahanan

 

Antara ruang sipir dengan penjara para tahanan dipisahkan oleh dinding pintu yang cukup tebal. Saya tidak menghitung berapa panjang dan ada berapa ruangan di penjara ini. Satu sel penjara berukuran sekitar 2×4 m dan ditempati oleh beberapa tahanan dengan minim pemanas.

 

Di lorong ini terdapat satu ruangan, tempat untuk melakukan penyiksaan brutal para tahanan. Mereka dipaksa untuk berjalan di tempat dengan alat di bawahnya (semacam treadmill) untuk menghindari terhunus pisau-pisau tajam di tepat di belakang punggung.

Persis di sebelah ruangan ini, merupakan ruang tahanan para pemuka agama katolik. Mereka ditahan di ruang dingin tanpa beralaskan kasur sambil mendengarkan orang-orang berteriak akibat disiksa di ruang persis di sebelahnya. Saat itu, pemerintah USSR hanya membekali mereka dengan rosaria dan alkitab dan dengan congkak nya berkata, “minta tolonglah pada Tuhanmu, jika Dia bisa menolong. Jika tidak, kalian boleh meminta tolong pada kami.”

KGB Museum, Vilnius, Lithuania
Ruang penyiksaan

 

Bagian menyeramkan bukan hanya di lorong penjara ini. Kami terus berjalan menelusuri ruang-ruang penyiksaan lainnya. Penyiksaan tidak hanya terjadi di dalam ruangan saja, para tahanan juga mendapat perlakuan kejam di luar ruangan. Para tahanan dibiarkan berdiri di luar di musim dingin dengan hanya berbalut pakaian dalam. Tak jarang pula turun salju. Kalau mereka mati karena hipotermina ? Ya mayatnya tinggal dikubur di penguburan massal tak jauh dari tempat ini. Murahnya nyawa manusia saat itu.

KGB Museum, Vilnius, Lithuania
Di tempat ini, para tahanan disiksa dengan cara ditelanjangi, hanya berbalut pakaian dalam di musim dingin dan seringkali bersalju. Musim dingin di Lithuania bisa mencapai -10 hingga -20 derajat celcius

Kengerian berlanjut ketika kami memasuki bagian ruang bawah tanah yang lain yang ternyata merupakan ruangan untuk mengeksekusi mati para tahanan. Eksekusi dilakukan dengan menembak brutal beberapa orang sekaligus. Mayat mereka yang bersimbah darah kemudian digeret petugas melalui anak tangga menuju truk terbuka dan ditumpuk bersama mayat-mayat lain untuk kemudian diangkut ke tempat penguburan massal.

KGB Museum, Vilnius, Lithuania
Ruangan inilah para tahanan dieksekusi mati dengan ditembak kepalanya dan jasadnya digeletakkan dan ditumpuk begitu saja di truk

Semua peristiwa ini direkam oleh pemerintah USSR dan video nya kembali diputar dalam ruangan ini tanpa sensor. Terang saja menambah energi yang amat negatif di sini. Ruangan ini tidak diubah sama sekali kecuali diberikan kaca sebagai tempat berpijak para pengunjung. Entah kenapa pengunjung tidak boleh menginjak langsung lantai ruangan ini.

A creepy experience

We hardly believe in ghosts appearances. Do you ? We’ve personally never experienced any strange things related to ghosts at first hand, even in Indonesia, a country with thousands mystical stories, except this one. At his age of three or four, I think my son got an unusual ability to see something that we couldn’t see. But I was not really sure he had that talent because it happened only one time when he was with me and one time when he was with my mom.

Kali ini cerita traveling kami agak berbeda dari cerita sebelum-sebelumnya dan ini sungguh di luar nalar.

Zola dan ayah saya yang lebih dulu turun ke penjara bawah tanah sebenarnya sudah melihat penampakan siluet perempuan di salah satu ruangan lewat sebuah lubang intip pintu. Beberapa ruangan di penjara ini memang ada yang terkunci dan hanya bisa diintip dari lubang pintu. Karena Zola si anak kepo, dia intip semua lubang pintu yang terkunci sampai tiba-tiba dia melihat sosok siluet di ruangan gelap di sel penjara nomer 19. Ayah saya dan Zola berdebat, ayah bilang beliau tidak melihat apapun, sementara Zola yakin dia melihat sesuatu.

Kemudian saya menyusul turun ke bawah. Melihat saya di ujung lorong penjara bawah tanah, Zola langsung menghampiri dan menarik tangan saya menuju sel penjara nomer 19 itu. Bukannya takut, saya malah spontan berkata, “ngapain cewek itu di situ ?” Saya pun melihat siluet seorang perempuan berambut panjang berdiri di balik pintu yang terkunci. Entah kenapa, penampakan ini sempat saya abaikan. Saya malah lanjut mengeksplorasi ke ruangan lainnya bersama Zola dan ayah.

Ketika kami kembali ke lorong penjara dan melihat suami saya, seperti reaksinya ketika melihat saya, Zola langsung menarik tangan suami menuju ke sel nomer 19. Tak percaya dengan yang dlihatnya, sontak saja pak suami mengaktifkan fitur kamera di hp nya dan medekatkan ke lubang pintu. Sebuah penampakan perempuan menyeringai di ruangan yang terang muncul di hp. Padahal dengan mata telanjang, ruangan itu gelap tanpa lampu. Tanpa diberi aba-aba, kami berempat langsung lari menjauhi sel itu.

Tiba-tiba, Zola menghentikan kami dan meminta kami kembali ke tempat itu untuk merekam dan mengambil foto karena tadi kami sama sekali tidak terpikir untuk merekam momen itu. Dengan ditemani ayah yang menyalakan kamera hp bersiap merekam penampakan di balik pintu, Zola balik lagi menghampiri ruangan. Sementara saya tetap berdiri beberapa langkah dari pintu, tak berani lagi mendekat. Suami juga sempat memotret nya. Pengunjung lain ada yang mencoba menangkap dengan kamera dslr nya, namun hanya tampak gelap sementara di hp kami bisa terlihat sangat jelas.

KGB Museum, Vilnius, Lithuania
Ruang penjara yang terkunci, hanya bisa diintip dari lubang kunci. Ruangan ini tampak kosong
KGB Museum, Vilnius, Lithuania
Sementara di ruangan nomer 19 ini, tiba-tiba kamera kami menangkap siluet seorang perempuan.
KGB Museum, Vilnius, Lithuania
Masih di ruangan yang sama. Penampakan lebih jelas
KGB Museum, Vilnius, Lithuania
Penampakan dua sosok di ruangan lain

Karena penasaran, kami menghampiri ruang staff museum. Di situ kami bertanya tentang penampakan di balik pintu. “It’s out of our exhibition. I can’t explain. If you ask me about KGB history and what happened during Soviet regime in Lithuania, it’ll be my pleasure to inform you,” dia hanya menjawab begitu. Seperti sudah biasa dengan cerita ini, wajahnya yang tanpa ekspresi malah menawarkan kami untuk berkunjung ke pemakaman massal korban kekejamaan Soviet tak jauh dari KGB museum. Karena saat itu sudah hampir gelap dan kami baru saja diperlihatkan sebuah penampakan, kami memilih untuk mencari makan malam saja dan pulang menuju apartemen dengan rasa penasaran yang belum tuntas.

Well, we still don’t know what really happened behind the locked door. I am pretty sure the museum staff didn’t intend to make a prank about their national history nor to get more curious visitors to visit the museum by paying someone standing behind the cold room without any lights. It’s not European manners, as for the history of this museum itself is already fascinating for dark tourism enthusiasts.

Let this story unrevealed !

Baca juga :

Happy plesiran ! 🙂

 

 

2 Comments Add yours

  1. hellomamika says:

    Aduh klo saya sih liat aja ga bakal berani Mbak Sheika.. seringainya serem bgt deh.. mana baca ini mlm2 hahaha..

    Like

    1. Sheika Rauf says:

      Iya emang sereeem bangeeeet 🙈

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s