One week itinerary for Baltic countries, from cultural to dark tourism – Part 2 : Riga, Latvia

Let’s continue the journey in Baltic. After exploring Tallinn, we moved to Riga, the capital city of Latvia, by bus. These three small baltic countries (Estonia, Latvia and Lithuania) are reachable by bus only for 4-5 hours. We took Lux Express Bus, a comfortable coach with entertainment (TV and free wifi) and amenities (coffee, chocolate and tea) inside. It made the trip more pleasant.

 

Baca juga :

Meskipun kami sempat ketinggalan bus di terminal, tak membuat kami kehilangan semangat melanjutkan perjalanan. Saya sempat kesal dan ngambek sama suami, tapi gak punya pilihan kecuali membeli tiket bus untuk jadwal berikutnya. Begitulah drama traveling pasti ada aja. Drama kali ini setidaknya lebih baik daripada lupa passpor yang pernah saya alami. Duh !

Tiket bus
Terpaksa harus beli tiket lagi karena ketinggalan bus. Photo from my ig story @sheikarauf :((

Baca juga :

Untungnya saat itu bus tidak terlalu penuh, masih ada sisa kursi untuk kami berempat, dan harganya pun masih affordable meskipun akan lebih murah memesan beberapa hari sebelumnya via online.

Riga tidak berbeda dengan Tallinn. Negeri yang dingin ini ditinggali oleh orang-orang yang dingin pula. Begitu turun dari bus di terminal bus di Riga, kami sempat merasa ditatap tidak bersahabat oleh orang-orang yang lewat. Efek kolonialisme berpuluh tahun oleh Soviet mungkin membuat penduduknya saling curiga. Syukurnya, tidak ada satupun orang yang iseng selama kami berjalan dari terminal menuju penginapan.

Terminal Bus Riga
Autoosta, terminal bus Riga
Riga di malam hari
Riga di malam hari

Di negara Baltic ini tidak ada Kedutaan Besar Republik Indonesia. Jadi jika terjadi sesuatu terhadap WNI di sini, maka KBRI terdekat ada di Finlandia, Swedia, dan Denmark. KBRI Finlandia menangani juga urusan di Republik Estonia, sementara KBRI Swedia merangkap urusan di Latvia, dan KBRI Denmark menangani urusan di Republik Lithuania.

So where to go in Riga, Latvia ?

We spent 3 days 2 nights in Latvia and stayed at the heart of Old Town Latvia. We found an old apartment to stay through airbnb. To be frank, the apartment itself is really nice and big enough for us four even though it doesn’t have an elevator (we took stairs to go to the second floor where the apartment located) and the environment was noisy so that we could not sleep well. There are a bar right in front of the apartment and several cafes nearby. It was new years eve as well. Consequently, the bar was open until mid night and people stayed outside until dawn. Can you imagine ?

 

Sebenarnya saya agak malas untuk eksplor kota Riga karena kurang tidur semalaman akibat berisik di depan apartemen. Maksud hati mau sekalian melewatkan malam tahun baru untuk warga di Krastmala, sebuah distrik di Riga, apa daya cuaca yang dingin mengalahkan niat kami. Kami memilih tidur yang pada akhirnya juga gak bisa tidur nyenyak, kecuali suami dan Zola yang memang dari sananya bisa tertidur dalam suasana apapun.

Malam sebelumnya ketika kami turun dari bus, kami harus melewati penyebrangan bawah tanah yang agak kumuh dan kotor. Dari situlah saya agak underestimate kota ini. Hingga keesokan hari nya kami mengeksplor kota yang memiliki icon kucing hitam ini, ternyata kota ini cantik dan gedung bangunannya sangat dipengaruhi oleh bangunan ala Russia. Memang gak banyak tempat yang kami kunjungi di Riga. Kami hanya berjalan-jalan di sekitar Old Town Riga, bahkan tidak merasakan transportasi publik di sini.

  • Explore Old Riga (Blackhead House)

Kota tua di Eropa itu serupa tapi tak sama. Kalau diperhatikan, masing-masing negara di Eropa memiliki ciri khas kota tua nya. Di Riga, bangunan di kota tua nya bergaya jaman medieval, abad pertengahan di Eropa, dengan warna bangunan pastel yang lebih soft dibanding di negara Scandinavia. Sebetulnya mirip dengan bangunan di Tallinn, Estonia.

Icon kota tua ini adalah Blackhead House yang merupakan tempat pertemuan para pedagang dan seniman Eropa hingga saat ini. Bangunan ini sempat hancur saat perang dunia namun kemudian dibangun kembali.

Blackhead house
Seperti Eiffel di Paris, ini adalah icon kota Riga, Latvia, yang paling populer

Selain blackhead house, ada juga beberapa icon kota Riga lainnya yang masih satu area. Karena kami datang saat musim ding3in dan persis saat tahun baru, maka kami tidak melewatkan christmas market yang ada di kota tua ini. Christmas market di sini tidak terlalu besar namun ornamen pohon natal nya terbuat dari kayu yang unik.

Family portrait
Family portrait

This slideshow requires JavaScript.

  • Museum of History of Riga and Navigation

Museum ini merupakan museum tertua di Latvia dan juga salah satu museum tertua di Eropa. Museum ini sebenarnya berlokasi di kota tua, namun sayangnya kami tidak mampir ke museum ini karena hari itu tujuan kami hanya mengeksplorasi kota tua Riga dan tidak ada waktu lagi berkunjung ke museum ini. Kalau dilihat dari gambar-gambar di google, museum ini sepertinya menarik.

  • KGB Museum

Dari awal, tujuan kami datang ke negara Baltic adalah mengunjungi KGB Museum, kantor mata-mata Russia yang kemudian dijadikan museum. Kantor KGB menjadi saksi bersejarah di mana dulu pemerintah Russia dan pasukannya memata-matai aktivitas masyarakat Latvia dan tidak segan mengeksekusi mati bagi mereka yang dianggap anti Soviet. Ternyata kami belum berjodoh dengan KGB Museum ini karena museum ini ternyata ditutup sementara untuk renovasi. Ini juga yang kami alami di Tallinn, Estonia, di mana kami malah gak kebagian jadwal tour di KGB Museum.

KGB Museum
KGB Museum tampak depan. Sewaktu sampai sini, museum ini sedans tutup untuk renovasi
  • Laima Chocolate Factory

Seandainya kami berjodoh lagi dengan Riga, kami akan mengunjungi museum coklat ini. Menurut review beberapa orang lokal yang saya temui dari internet, museum ini sangat menyenangkan untuk keluarga. Selain bisa melihat pembuatan coklat sambil mencium aroma coklat yang menggoda, pengunjung juga bisa mencicipi beraneka coklat dan coklat panas di kafe. Tempat ini bukan sekedar museum karena di sini juga lah coklat terbaik dari Latvia diproduksi sejak tahun 1870. Museum ini juga sering mengadakan creative workshop secara berkala di mana pengunjung bisa membuat coklat nya sendiri. Langsung saja cek websitenya diΒ Laima Chocolate Factory and Museum.

Anak saya sudah pasti gak menolak diajak ke sini, namun sayangnya kami tidak punya waktu lagi di Riga. Kebetulan suami saya harus video call dulu dengan Jakarta saat itu untuk menngurusi pekerjaannya. Jadi eksplorasi kami cukup tertunda karena harus menunggu sampai urusan suami saya selesai.

 

Unfortunately, we missed many places we’ve already planed in Riga, Latvia. But it’s okay. It doesn’t make us regret at all. Hopefully, we can go back to Riga in the future to explore more. Traveling for my family is not about fulfilling our destinations list, it’s more about enjoying the journey together in many different places around the world.

Happy plesiran ! πŸ™‚

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s