Mengenal suku Sami dan bermain dengan rusa kutub di Rautas, Sami Village, Swedia

Pernah dengar tentang suku Sami ? Suku ini merupakan suku asli yang mendiami bagian utara wilayah Scandinavia, dekat laut arctic. Mereka tinggal di ujung negara Norwegia, Swedia, Finlandia dan Rusia. Kalau mampir ke salah satu negara itu dengan tujuan melihat northern lights atau aurora, sekalian juga masukin Sapmi atau Sami land ke dalam itinerary. Sapmi ini sekarang semakin populer menjadi obyek pariwisata, selain northern lights.

Baca juga :

Kami sekeluarga berkumpul di lobi hotel sekitar pukul 8.45 pagi. Langit masih agak gelap dengan matahari yang masih ragu untuk muncul waktu subuh. Menurut jadwal, kami akan dijemput bus dari visitabisko.com pukul 9 untuk bersama-sama dengan peserta lain ke Rautas (atau Ravttas dalam bahasa Sami), kampung suku Sami, sekitar 45 menit dari Abisko. Tour ini memakan waktu sekitar 6 jam dengan beragam aktivitas yang cukup padat selama berada di Ravttas.

Nils dan adiknya, Mariann, yang merupakan keturunan Sami asli ย sudah menyambut kami di Ravttas. Mereka berdua yang akan memandu dan menceritakan tentang kehidupan nenek moyang mereka di masa lalu dan sekarang.

Ravttas Sami Village
Nils menjelaskan kalau orang Sami memiliki cara sendiri menangkap rusa dengan tali, yang berbeda dengan gaya koboi Amerika.

Suhu udara di luar saat itu mencapai minus 15 derajat celcius, terasa lebih dingin dari suhu di Abisko. Salju menutup daratan cukup tebal, kira-kira sekitar 20 cm. Bagi peserta yang merasa masih kedinginan, Nils akan meminjamkan snow suit, sebagai pelapis paling luar. Perlengkapan dingin lainnya, seperti syal, topi, dan sarung tangan, sebaiknya setiap peserta harus siap sendiri.

Berpakaian yang baik, lengkap dan tertutup dari atas sampai kaki adalah sangat penting di sini untuk tetap bisa menikmati beraktivitas di luar ruangan. Dalam rombongan kami, ada satu anak berusia sekitar 4 tahun memakai sepatu boot dengan kualitas thermal yang sangat buruk, sehingga ia merasa sangat kedinginan dan tidak kuat berjalan di atas salju. Akhirnya anak itu memilih diam saja di tenda dekat perapian ditemani salah satu orangtua nya. Sementara sarung tangan yang Zola pakai juga memiliki kualitas thermal yang buruk. Ini membuat tangannya mati rasa. Mariann yang baik hati langsung menukar sarung tangan Zola dengan sarung tangan yang dipakainya : sarung tangan thermal dengan lapisan kulit reindeer di dalamnya. Hangat !

Baca juga :

Sebelum berangkat menuju tempat penangkaran rusa kutub, kami diajak berkenalan dengan beberapa rusa di kandang Nils, sekaligus diajarkan cara menangkap dan menuntun rusa dengan tali. Di sini kami ikut memberi makan rusa-rusa kutub ini. Anak-anak paling senang dengan aktivitas seperti ini, tak terkecuali orang dewasa. Zola apalagi, senang bukan main. Saya baru tahu, kalau setiap tahunnya, tanduk rusa-rusa ini akan patah kemudian tumbuh lagi.

Abisko Sami Village
Nils memberikan makanan rusa untuk peserta yang ingin ikut memberi makan rusa
Ravttas Sami Village
Kakek yang senang kasih makan rusa kutub
Ravttas Sami Village
Anak kecil yang kegirangan bisa kasih makan rusa
Ravttas Sami Village
Semua nya happy ketemu rusa kutub
Ravttas Sami Village
Anak kecil yang kegirangan
Ravttas Sami Village
Anak kecil yang kegirangan kasih makan rusa
Ravttas Sami Village
Hai rusa !
Ravttas Sami Village
Suami saya yang happy ketemu rusa kutub
Ravttas Sami Village
Mau deket tapi takut diseruduk ๐Ÿ˜€

Dari kandang, kami menuju ke sebuah tempat di mana sudah berdiri lavvu, tenda orang Sami yang didirikan ketika menggiring rusa. Demi pengalaman, saya menawarkan diri untuk menarik rusa dari kandang ke tempat lavvu yang berjarak ย sekitar 15 menit berjalan kaki. Sementara Zola, suami, dan ayah bersama peserta lainnya naik kereta yang ditarik ATV. ย Karena jalanan tertimbun salju, maka langkah kaki saya pun terasa berat, ditambah sambil menarik rusa. Bebannya berat. Untunglah saya tidak sendiri, tapi berdua dengan peserta asal Brazil.

Ravttas Sami Village
Suami, ayah, dan Zola duduk di paling depan dekat ATV
Ravttas Sami Village
off we go, yuk ditarik rusa nya !
Ravttas Sami Village
off we go, yuk ditarik rusa nya !
Ravttas Sami Village
Off we go, yuk ditarik rusa nya !

Orang Sami di Swedia

Suku Sami di masa lalu berprofesi sebagai penggembala rusa kutub (reindeer herders) dan hidup nomaden di bagian utara dekat laut arctic sejak ratusan tahun yang lalu. Sekarang, profesi ini sudah semakin kurang digemari. Banyak anak muda keturunan Sami lebih memilih profesi masa kini. Ini juga disebabkan oleh peraturan pemerintah Swedia yang semakin membatasi pergerakan herders hanya di area tertentu saja dengan alasan agar tidak mengganggu penduduk Swedia lainnya.

Nils dan Mariann sendiri masih aktif di dunia penangkaran rusa kutub, namun tidak lagi hidup nomaden seperti nenek moyangnya. Nils berternak rusa untuk dijual daging, kulit dan tanduknya. Sama seperti orang Indonesia yang suka memakan jeroan sapi, orang Sami pun gemar menyantap jeroan rusa kutub. Selain menjadi reinders herders, Nils juga berbisnis travel dengan fokus mengajak orang asing mengenalkan budaya nenek moyangnya, Sami, melalui girontravel.se.

Dua puluh ribu keturunan Sami saat ini tersebar di wilayah Swedia lainnya, bukan hanya di lapland. Dulu mereka mengalami intimidasi dan hidup sebagai masyarakat termiskin di Swedia. Namun sekarang, suku Sami termasuk salah satu suku tertua yang dilindungi UNESCO, pemerintah Swedia pun kini ikut melestarikan budaya Sami. Ada beberapa sekolah khusus Sami di area lapland di mana mereka yang tertarik bisa belajar bahasa Sami dan skill yang berhubungan dengan budaya Sami, terutama skill menghadapi reindeer. “Yang kami tidak mengerti, kami harus membayar pajak tanah kepada pemerintah, padahal ini kan tanah nenek moyang kami,” kata Nils sedikit curcol. Orang Sami juga memiliki Sami parliament di pemerintahan Swedia untuk mewakili suara orang Sami dalam melestarikan kebudayaan dan keberadaan mereka.

Belajar ski tradisional sampai reindeer sledding

Sesampainya di tempat tujuan, kami diberikan kesempatan untuk mencoba reindeer sledding. Saya sebenarnya mereka kasihan sih dengan rusa yang menarik kami ini. Mereka harus menarik kereta isi dua orang berkali-kali sesuai dengan jumlah peserta saat itu. Hiks. Si rusa sempat aksi mogok gak mau jalan lagi ketika membawa saya dan suami, namun Nils menyuruh saya berteriak “hey hey !”. Butuh dua kali teriak sampai akhirnya si rusa mau kembali bergerak.

Reindeer sledding ini sudah menjadi bagian dari budaya Sami sejak dulu. Orang-orang Sami biasa memanfaatkan tenaga reindeer sebagai alat transportasi. Dulu nya mereka menggembala rusa-rusa ini menggunakan ski dan menggunakan tenaganya untuk sledding dan berpindah tempat.

 

Ravttas Sami Village
“Hey hey !”, begitu cara menyuruh si rusa ini berjalan
Ravttas Sami Village
Mariann menggiring rusa jantan
Ravttas Sami Village
Ayah saya dan Zola ber-reindeer sledding

Sambil menunggu giliran, tiap peserta memanfaatkan waktu untuk mencoba berlatih menangkap rusa kutub dengan melemparkan tali. Ada perbedaan cara dengan cara koboi di AS menangkap kuda. Tapi yang jelas, saya masih tetap saja gak bisa sampai giliran saya naik sledding tiba. Haha. Selain berlatih dengan tali, beberapa peserta mencoba berjalan dengan ski tradisional ala Sami. Untuk yang kedinginan bisa langsung masuk saja ke Lavvu, tenda yang didirikan suku Sami saat menggembala rusa di zaman mereka nomaden. Di sana perapian sudah dinyalakan untuk menghangatkan tenda dan Mariann mulai bersiap memasak santapan makan siang untuk kami semua.

Makan siang khas Sami, Suovas, di Lavvuย 

Inilah saatnya yang ditunggu, menghangatkan diri di dalam lavvu persis di depan tumpukan kayu dengan api menyala. Meskipun tenda sudah tertutup rapat dengan api menyala, kami tetap tidak bisa melepas jaket. Beberapa orang melepas boot nya dan menyorongkan kaki ke arah api, termasuk Zola yang sudah duduk paling depan. Dia agak sedikit kedinginan sehinga perlu mendekat ke arah api. Bau kaki ? Kami tidak mencium bau kaki, atau mungkin bau nya kalah dengan bau asap dari api yang memenuhi ruangan lavvu. Bau kayu bakar menyengat.

Mariann dan Nils mempersiapkan makan siang khas Sami untuk kami, Suovas. Suovas merupakan roti tipis (flat bread) bakar dengan daging reindeer bakar ditambah sayuran dan lingonberry juice sebagai minumannnya. Nyummmm….

 

 

This slideshow requires JavaScript.

Nils mulai bercerita lagi tentang nenek moyangnya. Ia mengajarkan kami beberapa kata dalam bahasa Sami. Bahasa Sami ternyata merupakan salah satu bahasa yang cukup kaya kosakata, misalnya saja untuk kata ‘salju’, ada puluhan kata untuk membedakan salju. Saat menulis ini, saya sudah tidak ingat lagi satupun kata dalam bahasa Sami. Dalam berpakaian pun, orang Sami menggunakan simbol-simbol sehingga orang akan tahu identitas kita dengan melihat simbol pada pakaian.

Nils terus bercerita sambil membagikan daging rusa kutub dengan flatbread dan campuran sayuran di dalamnya. Sementara Mariann terus memasak hingga persediaan habis. Lingonberry hangat yang dituang di dalam gelas kayu bulat khas suku Sami pun tandas tak bersisa.

Pulang dari kampung Sami, bukan hanya perut kenyang, kami juga membawa pengetahuan dan pengalaman baru baru tentang salah satu suku tua yang sudah eksis di dunia, serta bau asap yang menempel di jaket selama berhari-hari.

Ravttas Sami Village
Bye Nils ! See u when we see u ๐Ÿ™‚

Happy plesiran ! ๐Ÿ™‚

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s