Traveling bersama anak berarti memindahkan kerepotan dari rumah ke luar, benarkah ?

Setujukah dengan pernyataan ini ? Saya sih sama sekali tidak setuju. Berhubung tipe traveling kami sekeluarga memang simple dan gak mau ribet, maka ya hasilnya gak repot kok, malah bikin ketagihan, seperti nyandu. Saya gak tau yang terakhir ini apakah harus bersyukur atau terima nasib.

Saya dan suami sudah mengajak Zola keluar rumah sejak usianya seminggu lebih sedikit. Iya SEMINGGU. Mungkin karena kami tinggal di Paris waktu itu, jadi tidak ada orangtua atau siapapun yang melarang kami mengajak keluar bayi sebelum usia nya 40 hari. Gak tanggung-tanggung, kami membawa nya ke Museum Louvre, dari apartemen harus naik turun metro (kereta bawah tanah) beberapa kali. Memang tidak sampai masuk ke museum, hanya sampai di dalam sekitaran ticketing saja. Niatnya memang masuk, apa daya Zola sudah kehausan minta ASI dan saya harus mencari tempat tersembunyi untuk memberikannya ASI. Akhirnya kami pun memutuskan untuk pulang setelah muter-muter di luar museum Louvre.

Kapok ? Ya gak dong. Setelah itu hampir setiap minggu pasti ada agenda plesiran ke museum dan taman kota. Kami gak pernah betah diam di rumah. Berhubung apartemen kami waktu itu tidak lebih dari 30 m2, maka ke luar rumah menjadi kewajiban, buat refreshing. Sekitar usia sebulan, Zola kami ajak menginap di rumah teman yang sudah kami anggap seperti saudara sendiri di pinggiran Paris. Di sini lah pengalaman kami trip ke tempat agak jauh dimulai.

Usia 11 bulan, Zola pulang kampung ke Jakarta. Sekitar dua minggu di Jakarta, lalu balik lagi ke Paris. Perjalanan 15 jam dikali dua ditambah waktu transit sekitar 5 jam. Inilah perjalanan terjauh pertama kali untuk Zola. Rasanya ? Menyenangkan banget !

Mudik ke Jakarta
Mudik ke Jakarta tahun 2009, transit di Dubai 5 jam. bawaannya hanya baby backpack dan tas saya, sementara stroller dan koper sudah masuk bagasi pesawat

Buat saya, justru bepergian saat Zola masih bayi dan hanya minum ASI itulah yang paling mewah. Si bayi masih enteng digendong ke mana-mana, gak ribet soal makanan dan gak ribet soal pemilihan tempat wisata. Yang terpenting dia selalu merasa nyaman. Selebihnya, si bayi belum bisa protes apalagi menuntut macam-macam. Kalau nangis rewel, kemungkinan besar karena dia lapar, pempers nya kotor, kepanasan atau kedinginan. Solusinya tinggal kasih ASI, diganti pakaian dan popoknya, dan didekap penuh sayang. Si bayi pun merasa nyaman lagi.

Pakaian

Dari dulu sampai sekarang, saya selalu berusaha packing seminimal mungkin kalau naik pesawat atau kereta. Beda lagi kalau road trip karena semua barang bisa dimasukin ke mobil. Haha. Bepergian naik pesawat atau kereta dengan jumlah bagasi terbatas ditambah lagi di tempat tujuan harus turun naik angkutan umum bersama anak, membuat saya belajar packing pakaian se-simple mungkin. Apalagi waktu Zola masih bayi sampai usianya 3 tahun, kami harus membawa serta stroller selain koper. Kami menghindari carrier atau backpack besar, lebih nyaman membawa koper. Kebetulan kami juga bukan tipe keluarga yang suka naik gunung, jadi gak pernah mengandalkan carrier.

Kalau lama pergi lebih dari seminggu, maka kami bisa membawa satu koper besar hanya untuk bertiga (saya, suami dan Zola), ditambah satu baby backpack yang bisa dibawa ke kabin. Kalau kurang dari seminggu, kami hanya membawa satu koper kecil untuk bertiga yang bisa masuk kabin. Cukup kok. Baju bayi kan kecil-kecil.

Jangan tanyakan baju untuk postingan OOTD di socmed. Saya gak pernah berpikir untuk OOTD, yang penting buat kami, cerita perjalanan kami sekeluarga dan pelajaran yang didapat di jalan. Mau baju berulang karena cuci-pake-cuci-pake, kami gak begitu peduli. Pokoknya, barang bawaan tetap dijaga se-simple dan seminimalis mungkin supaya gak merepotkan kami juga nantinya.

Makanan

Kalau dipikir-pikir, sepertinya saya bukan tipe emak-emak yang di tas nya selalu punya cemilan buat dimakan. Dari dulu sampai sekarang, saya nyaris gak pernah bawa bekal dari rumah untuk traveling, hanya tempat minum. Gak pernah juga bawa slow cooker atau rice cooker kecil ke mana-mana. Lagipula, memang keluarga kami bukan tipe tukang ngemil. Sejak bayi, waktu makan Zola hanya empat kali : sarapan, makan siang, nyemil sore, dan makan malam. Jadi waktu nyemil sudah bisa diprediksi. Cemilan pun biasanya cukup yoghurt dan biskuit.

Waktu Zola masih MPASI (kurang dari setahun), makanan instan bayi jadi andalan saya. Kalau ada yang bilang, kok anak dikasih makanan instan sih ? Why not ? Toh makanan instan pun sebenarnya sudah melalui prosedur asupan nutrisi terpenuhi dari institusi resmi. Di setiap negara pasti ada lembaga pengawas macam BPOM ini.

Selama traveling, terutama ketika Zola masih di bawa usia satu tahun, saya beli saja makanan instan dan biskuit bayi di supermarket lokal. Saya bawa itu ke mana-mana, dan ketika tiba waktunya makan, kami mampir ke restoran untuk makan siang sekalian minta tolong staf restoran untuk menghangatkan makanan untuk Zola.

Trip ke Cité Medieval, Ile de France, France
Makanan instan yang tinggal dipanaskan. Anak bayi serasa orang dewasa sewaktu trip ke Cité Medieval, Ile de France, France, tahun 2009.

Kalau membawa bekal makanan pun biasanya saya sesuaikan dengan waktu makan yang dilewati selama perjalanan. Kalau dari pagi ke siang, saya bawa dua makanan instan bayi untuk pagi dan siang. Kalau dari siang ke malam, saya bawa dua makanan instan, yoghurt, biskuit dan susu dan susu. Kalau pagi sudah sarapan di rumah, lalu perjalanan hanya memakan waktu satu jam, saya tidak bawa bekal apapun.

Sekarang malah lebih simple. Saya nyaris tidak pernah membawa bekal dari rumah terutama ke luar negeri, kecuali kalau pergi bersama ayah yang perlu bawa bekal seperti abon, pop mie, indomie, sambel, dan sebagainya. Sebenarnya ini cukup berguna sih, tapi tetap saya malas bawa nya :D.

Jika ingin berhemat untuk biaya makanan, saya akan mencari penginapan yang dilengkapi kompor beserta peralatannya. Bahan mentah bisa dibeli di supermarket atau pasar setempat. Tentu saja masaknya juga se-simple mungkin dengan bumbu seminimal mungkin, semua bumbu pun biasanya serba bubuk atau bumbu jadi.

Lewat dari usia satu tahun, Zola sudah bisa makan makanan dewasa yang sama dengan saya. Kadang saya atau suami membeli satu menu makanan untuk dimakan berdua Zola. Sekarang sih, Zola sudah bisa memesan satu menu sendiri. Traveling jadi tambah ribet ? Tentu tidak. Justru pilihan makanan sudah semakin banyak seiring dengan bertambahnya usia Zola.

Diapers

Saya tidak pernah membawa bekal diapers berlebihan, hanya cukup untuk diperjalanan saja. Selebihnya, saya akan membeli di supermarket setempat. Kalau biasanya di rumah Zola biasa ganti diapers tiga sampai empat kali sehari, ya saya cukup membawa tiga saja, lalu biasanya tiga lagi saya simpan di koper untuk cadangan. Kalau perjalanannya hanya sekitar satu jam, saya malah hanya membawa dua di tas bayi, dua lagi saya simpan di koper untuk cadangan. Begitu sampai di tempat tujuan, barulah saya membeli diapers sesuai dengan kebutuhannya selama di sana.

Hiburan untuk di jalan

Buku bacaan anak. Hanya itu bekal hiburan yang kami bawa. Selebihnya, Zola biasanya main-main di dalam pesawat atau kereta, mondar-mandir kaya setrikaan, hinggap dari satu kursi ke kursi lain. Percuma juga bawa banyak mainan buat hiburan, biasanya si bayi malah tertarik ke obyek lain di sekitarnya.

Hiburan Zola
Gak perlu bawa mainan lagi kalau si bayi bisa lompat-lompat kursi begini. Kebetulan banget kereta Amsterdam ke Brussel ini nyaris kosong

Sampai sekarang pun masih begitu. Zola hanya membawa beberapa buku bacaan untuk di jalan. Sebagai cadangan kalau bosan dengan hiburan yang ada di pesawat atau kereta. Sewaktu di perjalanan kereta dari Oslo ke Flam, Norwegia, tahun 2016 lalu, kami sengaja memilih gerbong keluarga. Di gerbong itu malah ada playground khusus anak. Perjalanan lima jam pun sangat tidak terasa untuk Zola karena dia bisa bermain bersama anak-anak penumpang lainnya.

Tujuan wisata

Dalam memilih tujuan wisata, rasanya kami hampir melupakan tempat wisata dengan fasilitas anak. Plesiran kami adalah plesiran untuk semua, kebahagiaan untuk semua, bukan hanya fokus untuk Zola. Anak-anak sebenarnya bisa saja diajak ke mana pun.  Kecuali untuk aktivitas, seperti snorkeling, diving, outbond, tentu saja diperlukan batas usia, sementara kalau hanya spot wisata, mau ke gunung pun, sebenarnya anak hanya tinggal mengikuti orangtua nya. Lagi-lagi tergantung bagaimana orangtuanya.

Mannequin Pis, Brussel Belgia
Anak bayi dan balita itu dibawa ke mana juga bisa, belum bisa protes macam-macam

Pemilihan penginapan pun tidak selalu harus ada fasilitas anak. Sewaktu keliling Eropa pertama kali, saat kami masih di Prancis, kami malah menginap di budget hotel seperti ibis dan hotel F1 yang minim fasilitas anak. Everyone was fine and happy. Mau diajak camping menginap di tenda pun, asal orangtuanya sudah terbiasa melakukannya atau tipe yang santai bin woles, si anak tinggal ikut.

Brussel Belgia
Di lobi budget hotel, 2010. Tak perlu playground lagi kalau dia bisa manjat-manjat meja yang ada di sekitarnya. Tips : jangan lepaskan pengawasan, dan kalau sudah berisiko merusak atau berbahaya, pindahkan si bayi segera.

Buat saya, kerepotan itu amat relatif dan subyektif. Tergantung gimana orangnya. Mau menjadikan kerepotan itu sebagai keluhan atau pengalaman saat traveling.

Justru saat plesiran lah, berbagai peraturan di rumah bisa tidak berlaku. Berbagai excuses bisa diterapkan. Jika di rumah berlaku jam tidur malam, sementara kalau lagi plesiran, waktunya amat sangat fleksibel. Jika di rumah harus berkutat dengan segala urusan yang sepertinya tidak pernah berakhir, saat plesiran justru kami bisa bernafas agak lega, menghirup udara di tempat yang lain dan mengambil pelajaran dari tempat yang kami singgahi.

Bagaimanapun juga, jika ada kerepotan saat traveling, maka itu adalah kerepotan yang menyenangkan dan sangat berbeda dengan kerepotan di rumah. Iya kan ? Yang tidak setuju boleh minggir. Hehehe 😀

Happy traveling ! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s