Menjelajah desa wisata suku Maori, suku pertama yang menempati New Zealand

Satu hal yang paling berkesan dari plesiran kami di New Zealand adalah berkenalan dengan suku Maori, suku yang menempati New Zealand sebelum bangsa kulit putih menjejakkan kaki nya di negara paling bawah peta ini. Tidak seperti di negara Amerika dan Australia di mana suku-suku asli nya sudah semakin terdesak, di New Zealand justru berbeda. Keberadaan Maori dengan budayanya masih terasa dan malah dipertahankan di sini.

Jejak pertama orang Maori sangat mudah ditemui. Begitu mendarat di airport Auckland, kami sudah disambut oleh kata “Kia Ora !” yang artinya “Hi” atau “Hello” dalam bahasa Maori. Keluar dari airport, meluncur di jalan, begitu banyak nama-nama jalan yang dipertahankan dalam bahasa asli nya. Di sekitar pun masih sangat mudah ditemui orang-orang dari suku Maori. Mereka biasa nya berparas tinggi, bermata besar, berambut coklat hitam yang mayoritas lurus, hidung besar mancung, mirip karakter dalam film kartun Moana. Ada beberapa di antaranya memang mirip orang Eropa. Suku Maori ini sebenarnya masih berkaitan erat dengan orang-orang di Hawaii. Mereka inilah keturunan suku Polynesia yang bermigrasi dari Asia Tenggara menuju New Zealand. Kemungkinan nenek moyang suku Maori sama dengan nenek moyang kita dengan beberapa budaya dan ritual nya yang mirip-mirip dengan ritual suku di Indonesia, seperti tradisi bakar batu atau ritual membuat tatto.

Di New Zealand, bahasa Maori menjadi salah satu bahasa resmi nasional di samping bahasa inggris dan sign language. Di sekolah pun diajarkan bahasa Maori dan tarian adat Maori, yang dikenal dengan Haka dance atau tarian perang. Setiap anak yang bersekolah di New Zealand pasti familiar dengan tarian ini dan bisa menarikannya. Bukan hanya itu saja, Haka dance kerap kali menjadi pembuka setiap pertandingan rugby skala internasional. Tarian ini dilakukan sendiri oleh team rugby All blacks yang langganan menyabet peringkat nomer 1 dunia. Tarian ini pun seperti mengintimidasi tim rugby manapun yang akan bertanding dengan All Blacks. Coba saja lihat video ini.

Karena alasan ingin berkenalan dengan suku Maori, kami pun merencanakan berkunjung ke desa wisata Maori. Ternyata setelah browsing, ada banyak sekali pilihan yang sempat membuat saya bingung harus memilih. Setiap area seperti memiliki desa wisata adat Maori dengan keunikannya masing-masing, baik di pulau bagian Utara (North Island) maupun di pulau bagian Selatan (South Island). Satu area yang paling populer dengan desa wisata Maori nya adalah Rotorua. Rotorua memang menjadi salah satu destinasi kami di New Zealand setelah Auckland. Banyak tempat-tempat menarik di sini, termasuk glowworm caves, goa menyala-nyala yang tersohor itu letaknya tak jauh dari Rotorua. Lokasi Rotorua juga hanya ditempuh sekitar 2-3 jam dari Auckland dengan menyetir.

Di sini lah terdapat beberapa desa wisata yang sudah terkenal dan banyak dikunjungi wisatawan mancanegara, di antaranya :

  1.  Te Puia, menonjol dengan barang-barang kerajinan dan seni Maori
  2. Mitai Village, menonjol dengan pertunjukkan Maori di malam hari yang eksotis,
  3. Tamaki Village, menawarkan pengalaman unik merasakan kehidupan suku Maori langsung dengan menginap semalam di desa ini.
  4. Whakarewarewa, desa wisata yang sampai saat ini masih ditempati penduduk asli Maori.

Dari empat pilihan desa wisata Maori, pilihan dijatuhkan pada Whakarewarewa. Kami ingin melihat langsung bagaimana kehidupan desa wisata yang masih ditinggali orang-orang Maori. Bukan saja yang masih hidup, yang meninggal pun dimakamkan di desa adat ini. Selama kami berada di sana, penduduk lokal lalu lalang keluar masuk desa wisata ini untuk melakukan aktivitasnya. Banyak juga di antara mereka yang berprofesi sebagai tour guide.

Whakarewarewa Maori Living Village
Desa adat Maori yang masih ditinggali penduduk
Whakarewarewa Maori Living Village
Ini bukan penduduk Maori ya 😀

Alasan lainnya kenapa saya memilih desa wisata ini adalah harga tiket masuk ke Whakarewarewa lebih murah.  Inilah alasan ekonomis yang disuka para emak, tak terkecuali saya.

Geothermal di Whakarewarewa Village

Geothermal menjadi salah satu daya tarik dari Whakarewarewa Village dan wisata New Zealand pada umumnya. New Zealand memiliki banyak sekali geothermal mengingat lokasinya yang berada di titik api dan ini berakibat berlimpahnya tenaga panas bumi. Banyak titik-titik yang mengeluarkan asap dari bawah tanah, bahkan ada yang disengaja dilubangi seperti di Whakarewarewa Village ini.

Menurut tour guide yang menemani kami berkeliling desa wisata whakarewarewa, lokasi ini merupakan lokasi paling berbahaya sekaligus paling aman di dunia. Paling berbahaya karena letaknya dikelilingi aktivitas volkanik dengan tenaga panas bumi yang besar. Paling aman karena tenaga panas yang besar ini dikeluarkan lewat danau, kolam dan lubang-lubang, karena itulah berada di sekitar sini selalu diliputi asap dan bau belerang. Jadi kalaupun gunung berapi meletus, meletusnya tidak akan terlalu dahsyat karena sebagian tenaga nya sudah dikeluarkan lewat saluran-saluran yang sengaja dibuat.

Whakarewarewa Maori Living Village
Geothermal di mana-mana
IMG_1676
Oven geothermal. Tempat mengukus dan memanaskan makanan
IMG_1679
Tour Guide, asli Maori sedang menjelaskan cara memasak di kompor raksasa ini
Whakarewarewa Maori Living Village
Kompor raksasa. Tinggal celupin makanan mentah. Sayuran dan daging dimasak terpisah.
Whakarewarewa Maori Living Village
Lama-lama berdiri di sini bisa menyembuhkan penyakit asma
Whakarewarewa Maori Living Village
Pohutu Geyser, terletak di Te Puia, namun bisa terlihat dari Whakarewarewa

Geothermal ini bukanlah tanpa fungsi. Penduduk sekitar justru memanfaatkan panas bumi untuk kehidupannya sehari-hari, seperti mandi dan memasak. Mereka malah memiliki kolam khusus merebus masakan dan oven alami yang fungsinya menyerupai microwave. Oven ini dibuat di dalam tanah dengan memanfaatkan panas bumi untuk mematangkan makanan. Metode memasak seperti ini disebut Hangi. Semua bahan makanan tidak mengalami proses memasak yang terlalu lama. Semuanya tinggal cemplung atau diuapkan saja. Begitu empuk langsung diangkat dan siap dihidangkan.

Whakarewarewa Maori Living Village
Jenis makanannya ala Barat namun dimasak dengan teknik Hangi, oven di dalam tanah yang memanfaatkan energi panas bumi. Rasanya ? Ada rasa belerang sedikit. 😀

Sementara untuk mandi, orang Maori di sini memiliki kolam pemandian air belerang yang bagus untuk kulit. Di sini ada juga kolam uap yang katanya bisa menyembuhkan penyakit asma. Pagi hari sebelum wisatawan berdatangan, mereka akan memenuhi tempat pemandian. Rata-rata rumah mereka tidak dilengkapi dengan kamar mandi, hanya toilet.

Di desa ini tidak diizinkan membangun rumah baru karena untuk membangun sebuah rumah benar-benar harus memperhitungkan pondasinya mengingat energi panas bumi yang ada di dalam tanah. Jadi jumlah rumah dibiarkan tetap tidak bertambah. Justru ada beberapa rumah yang sudah tidak layak dan sudah tidak bisa diperbaiki lagi karena alasan keamanan tidak boleh ditempati dan menunggu untuk hancur saja.

Haka dance performance

Inilah yang paling ditunggu-tunggu para pengunjung, termasuk kami. Zola pun sangat antusias ingin melihat tarian ini. Tanpa ragu ia memilih kursi paling depan berhadap-hadapan langsung dengan para penari. Haka dance merupakan tarian perang orang Maori yang ditampilkan dengan menghentakan kaki ke lantai sambil bernyanyi berteriak dengan lantang tanpa alat musik. Kalaupun ada, itupun hanya satu alat musik, gitar. Yang bikin tarian ini menjadi intimidatif adalah para penari menujulur-julurkan lidah dengan maksimal dan mata melotot kepada penonton. Ini membuat siapapun yang melihat langsung jiper !

Buat Zola, pengalaman seperti ini sangat berkesan apalagi setelah melihat tarian Haka. Sampai sekarang, kalau lagi mati gaya, kadang Zola suka menirukan tarian Haka, menghentakan kaki ke lantai sambil menjulurkan lidah dan melotot. Seram ? Malah jadi gemesin sih. 😀

Haka dancers
Haka Dance performers

Happy traveling ! 🙂

Baca juga :

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s