Pura-pura jadi Indiana Jones, menelusuri jejak kaum Tsamud di Madain Saleh (Al Hijr), Saudi Arabia

Ini adalah lanjutan tulisan dari rangkaian cerita umroh mandiri saya akhir Ramadhan 2017 lalu. Kali ini kami akan kembali memasuki lorong waktu sekitar 1000 tahun sebelum Masehi ke sebuah situs tempat tinggal, pemakaman dan tempat peribadatan Kerajaan Nabatean, salah satu kerajaan tertua Arab Saudi. Situs ini sekarang sudah resmi masuk dalam daftar salah satu warisan dunia yang dilindungi Unesco.

Berkat Bandar yang menjadi tour guide kami saat itu, banyak sekali tempat-tempat yang kami kunjungi, bahkan ia membawa kami ke situs yang terbatas untuk umum, tidak semua orang bisa memasukinya.

Baca juga :

Al Khuraybah, situs penggalian arkeologi menelusuri jejak kaum Dedan

Rasanya memang seperti menjadi Indiana Jones, tokoh fiktif legendaris seorang profesor arkeolog Amerika. Tahu kan film Indiana Jones ? Nah, mirip-mirip itulah perjalanan kami kali ini. Meskipun cuaca panas, Zola tetap excited mendengarkan cerita peninggalan kerajaan Dadan / Dedan ini, kaum yang hidup pada masa antara Nabi Hud hingga Nabi Saleh, sekitar 1000 tahun sebelum Masehi.

Sebelum tahun 2015, situs Al Khuraybah ini hanyalah gunung berbatuan yang dikelilingi tanah tandus. Kemudian pada tahun 2015, para arkeolog Eropa bersama dengan arkeolog Arab Saudi mulai menggali bekas-bekas peninggalan kerajaan Dedan yang tertimbun selama ribuan tahun.

Al Khuraybah
Situs Alkhuraybah, sebelum ada penggalian tahun 2015 kira-kira seperti ini penampakannya

Di lembah ini sebenarnya hidup beberapa kerajaan tertua nenek moyang bangsa Arab, karena itulah dinamakan sebagai “City of Kingdoms”. Namun kerajaan Dedan adalah yang terbesar dan terpenting. Masyarakat Kerajaan Dedan, yang hidup sekitar 9 abad sebelum Masehi, dikenal sebagai bangsa yang cerdas, ahli memahat bebatuan dan menguasai perdagangan. Masyarakat inilah yang dikenal sebagai kaum Tsamud. Nama Dedan disebut-sebut juga dalam Al Qur’an, Bible dan beberapa buku Assyrian.

Dedan ini adalah nama tua sebelum Al Ula yang berarti kota cinta. Masyarakat lokal masih mengenalnya sebagai kota Dedan, nama lain dari Al Ula. Hingga 5 abad sebelum Masehi, Dedan berganti nama menjadi Lihyan mengikuti nama raja saat itu. Pada masa ini, Kerajaan Lihyan meluaskan pengaruh kerajaannya hingga ke Petra, Yordania. Maka tidaklah mengherankan jika bentuk bangunan di Petra mirip dengan bangunan di Madain Saleh (Al Hijr).  Kerajaan ini tetap berdiri selama ratusan tahun hingga kemudian dihancurkan oleh orang-orang Nabatean 150 tahun sebelum Masehi.

Ada dua pendapat yang masih diperdebatkan oleh para ahli, apakah kerajaan ini runtuh karena peperangan besar-besaran memperebutan kekuasaan atau runtuh karena bencana alam sehingga memusnahkan peradaban manusia. Di dalam Al Qur’an sendiri diceritakan tentang kehancuran kaum Tsamud yang dikutuk Allah SWT lewat bencana alam karena tidak mau mengakui kebenaran ajaran Nabi Saleh, malah mengolok-oloknya.

Al Khuraybah
Setelah penggalian oleh para arkeolog seperti ini penampakannya. Ada bekas-bekas bangunan yang tertimbun di bawah tanah selama ribuan tahun
Alkhuraybah, Madain Saleh
Tempat ini diperkirakan sebagai pusat Kerajaan Dedan : pemukiman penduduk, tempat beribadah dan pasar

This slideshow requires JavaScript.

Setiap dua kali dalam setahun, di luar musim panas, para arkeolog Eropa datang ke sini bersama arkeolog Arab menggali dan meneliti bangunan-bangunan di dalam sini. Penggalian ini belum sepenuhnya selesai dan ada beberapa restricted area yang ditutup hanya boleh dilalui para peneliti.

Lion’s Tomb Madain Saleh

Masih satu area di Al Khuraybah, terdapat Lion’s Tomb, tempat pemakaman keluarga raja Kerajaan Dedan, bukan pemakaman singa loh ya :D. Dinamakan lion karena di beberapa pemakaman dibuat patung singa yang berisi prasasti tentang si pemilik makam. Lion’s Tomb ini letaknya di atas perbukitan, makanya butuh usaha untuk naik mendekat. Cerita selanjutnya tentang Lion’s Tomb, silakan menyimak penjelasan Bandar di video singkat yang diambil suami saya ini.

Lion's Tomb
Lion’s Tomb. Dulu keturunan Kerajaan Dedan dimakamkan di dalam gunung batu ini. Gunungnya dilobangi membentuk makam untuk menempatkan jasad manusia

Madain Saleh, pemakaman di dalam gunung berbatu

Kalau sudah pernah ke Petra atau tahu tentang Petra, Madain Saleh mirip sekali dengan Petra karena memang keduanya memiliki hubungan, sama-sama pernah berada di bawah kekuasaan Kerajaan Lihyan hingga Nabatean. Kaum Nabatean kemudian membuat rumah-rumah, tempat ibadah hingga pemakaman dengan cara memahat gunung berbatu. Mereka hanya menggunakan peralatan yang tergolong canggih pada masanya namun sangat sederhana dan hampir tidak digunakan lagi pada masa sekarang, yakni palu / martil, pisau, mata pahat.

Untuk bisa memasuki situs Al Hijr (Madain Saleh), setiap turis harus izin terlebih dahulu dengan menunjukkan passpor. Sebaiknya datang bersama tour guide resmi orang lokal yang sudah paham medan dan cerita tentang situs ini, biar bisa bawa pulang pengalaman dan pengetahuan baru.

Madain Saleh
Pintu gerbang masuk situs Madain Saleh

Madain Saleh merupakan pemakaman yang terdiri dari 111 pemakaman di dalam gunung berbatu. Hampir seluruh bagian depan pemakaman ini didekorasi dengan indahnya. Mereka memang dikenal sebagai kaum pemahat.

Nama Madain Saleh diambil dari nama Nabi Saleh, sebagai pengingat atas kesombongan kaum Tsamud yang hidup pada masa Nabi Saleh dan bencana yang menimpa mereka. Madain Saleh juga disebutkan dalam Al Qur’an surah Al Hijr, karena itulah Madain Saleh disebut juga dengan Al Hijr.

Qasr Al Farid
Qasr Al Farid, the lonely Castle, icon dari Madain Salah. Ini adalah satu dari 111 monumen pemakaman Gunung Batu di Madain Saleh (Al Hijr)
Madain Saleh (Al Hijr)
Ini bukan perumahan. Ini pemakaman.
Madain Saleh (Al Hijr)
Bagian dalam makam Al Hijr. Jasad manusia diletakkan begitu saja di dalam lubang-lubang yang sudah dipahat sebelumnya. Ada lubang yang dibuat di dinding, ada juga lubang di lantai.
Madain Saleh (Al Hijr)
Si anak kecil excited banget di ajak ke tempat ini
Madain Saleh (Al Hijr)
Bagian depan pemakaman orang-orang Nabatean (Tsamud). Mereka percaya bahwa orang yang sudah mati dimakamkan di gunung untuk mempermudah roh diangkat kembali ke langit.
Madain Saleh (Al Hijr)
Bagian dalam makam. Ketika mati, tubuh mereka diletakkan di tempat ini bersama dengan harta kekayaan dan juga barang kesayangan. Harapannya agar arwah memiliki kecukupan harta pada kehidupan berikutnya.
Madain Saleh (Al Hijr)
Peninggalan prasasti dari kaum Nabatean yang ditemukan di salah satu pemakaman Madain Saleh

Jabal Ithlib dan Al Diwan, tempat kaum Tsamud bermeditasi dan berdoa 

Situs selanjutnya yang kami kunjungi adalah holy mountain Ithlib. Gunung ini disebut sebagai gunung suci karena di sinilah orang-orang kaum Nabatean bermeditasi dan berdoa. Mereka membuat ruangan-ruangan yang terhalang sinar matahari untuk berdiam diri. Ruangan ini dinamakan Al Diwan.

Namanya saja gunung, maka kami harus hiking ke atas untuk bisa mengeksplorasi gunung Ithlib ini. Lumayan melelahkan juga untuk sampai ke atas. Untungnya gunung ini bukanlah pegunungan tinggi dan curam, namun pegunungan landai dan bisa didaki siapapun dan kapanpun meskipun tanpa persiapan peralatan mendaki.

Mount Ithlib
Al Diwan, tempat penduduk Nabatean berdiam diri dan berdoa. Di gunung ini dipercaya sebagai tempat bersemayam para dewa-dewa kaum Nabatean.
Mount Ithlib
Di gunung ini pula, kaum Nabatean membuat lubang-lubang sebagai tempat penyaluran air hujan. Ketika hujan turun, air mengalir melalui sistem yang dibuat dan jatuh ke tempat penampungan air yang sengaja dibuat di kaki gunung.
Mount Ithlib
Salah satu ruangan tempat berdoa dan bermeditasi
Mount Ithlib di Madain Saleh
Tampak dari atas gunung Ithlib. Dari atas sini kami membayangkan melihat unta-unta para pedagang yang melintas di bawah kaki gunung pada masa itu. Ngayal boleh dong yaa 😀

Begitulah perjalanan kami di Madain Saleh yang ditutup dengan melihat sunset di pegunungan Al Ula dan berfoto bersama Bandar. Di pegunungan ini kami bisa melihat seluruh kota Al Ula dari atas. Kali ini untuk sampai ke puncak tidak jalan kaki, tapi naik mobil.

Sunset di gunung Al Ula
Sunset di Gunung Al Ula, 850 meter dari permukaan laut. Dari atas sini kami bisa melihat seluruh kota Al Ula. Foto diambil dari akun instagram saya.
Berfoto bersama Bandar
Berfoto bersama Bandar, tour guide kami di Al Ula. Kalau ada yang bertemu beliau, sampaikan salam dari kami ya. Beliau tour guide yang sangat profesional. Highly recommended !

Belum selesai dieksplor…

Situs-situs yang ada di Al Ula dan Madain Saleh ini belum sepenuhnya digali dan diteliti lebih lanjut. Sebagian lokasi Al Khuraybah saja masih banyak yang masih tertimbun tanah.

Ada hadits yang menyebutkan bahwa umat islam dilarang mengunjungi situs ini. Ada juga hadits yang menceritakan bahwa ketika Nabi Muhammad SAW melewati tempat ini saat akan menuju ke Tabuk, beliau menangis dan meminta pasukannya mempercepat langkah. Namun kini pemerintah Arab Saudi justru sedang giat melakukan promosi pariwisata untuk situs Madain Saleh, selain melakukan penelitian-penelitian sejarah dan arkeologi bersama para arkeolog asing.

Gimana, ada yang tertarik ke sini juga ?

Happy traveling ! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s