Berpetualang di kota ‘hantu’ Al Ula, Saudi Arabia, salah satu kota tertua di dunia sejak 1000 tahun sebelum masehi

Elephant Rock in Al Ula
Elephant Rock in Al Ula, icon of Al Ula City

Seperti masuk ke lorong waktu dan bertemu dengan bekas-bekas saksi bisu kehidupan manusia 1.000 tahun sebelum masehi, amat sangat jauh dari peradaban modern seperti sekarang ini. Bahkan kota ini disebut sebagai kota hantu di sebuah situs www.urbanghostsmedia.com. Tentu saja bukan kota berhantu dalam arti sebenarnya.  

Awalnya tidak sengaja datang ke Al Ula, niatnya hanya ingin bermalam saja.

Baca juga : Glamping di tengah gurun Al Ula, Saudi Arabia, kota tua sejak 1000 tahun sebelum masehi

Maksud hati ingin mengunjungi Madain Saleh, sebuah situs arkeologi dekat dari Al Ula. Karena di Madain Saleh saat itu tidak ada penginapan, maka menginaplah kami di kota terdekat, Al Ula. Eh ternyata justru kami bisa mengeksplorasi banyak hal di kota ini dengan menyewa jasa seorang profesional tour guide lokal, penduduk asli Al Ula. Arab Saudi ternyata bukan hanya Mekah, Madinah dan Jeddah yang akrab dikunjungi jamaah haji dan umroh. Arab Saudi juga memiliki kisah sejarah panjang dan tertua di dunia di kota-kota lain, seperti di Al Ula.

Zola sangat excited dibawa ke sini. Karena dia sering diajak keliling museum di Jakarta, maka sepertinya Zola mulai tertarik dengan sejarah. Setiap kali traveling ke manapun, wisata sejarah menjadi salah satu tujuan kami. Malah kalau kunjungan ke museum atau situs bersejarah gak masuk dalam itinerary kami, pasti ditagih Zola. Haha.

Baca juga : Mengapa perlu mengajak anak ke museum ?

Sekarang silakan ikuti perjalanan kami 🙂 

Al Ula, the abandoned old town city, once a bustling civilization 1000 years B.C 

Lebih dari 1000 tahun sebelum masehi, Al Ula adalah sebuah kota sibuk dengan kegiatan perekonomian dan peradabannya. Kota ini adalah jantung kerajaan Dadan atau Dedan atau dikenal juga dengan Lihyan, salah satu kerajaan tertua di Saudi Arabia. Selain kota Al Ula, wilayah kekuasaan kerajaan Dedan mencakup kota Petra di Jordan.

Beberapa ratus tahun setelahnya, Lihyan diambil alih oleh kerajaan Nabatean sampai akhirnya Petra direbut oleh kerajaan Romawi tahun 106 Masehi, kemudian Nabatean memindahkan penduduknya ke Hegra atau Al Hijr, sekarang dikenal sebagai Madain Saleh, tak jauh dari kota Al Ula. Madain Saleh kemudian menjadi kota utama setelah Petra direbut, sementara Al Ula berfungsi sebagai kota penghubung. Tak heran, jika gaya arsitektur di Madain Saleh mirip sekali dengan Petra.

Sekitar tahun 600an, Nabi Muhammad pernah melintasi kota ini dalam rangka ekspedisi ke kota Tabuk untuk mengalahkan pasukan Bizantium (Romawi Timur). Ketika Al Hijr atau Madain Saleh runtuh akibat bencana alam, kota inipun ikut lumpuh hingga akhirnya dibangun kembali dengan menggunakan batu-batu bekas reruntuhan pada abad ke-13. Sejak saat itu, Al Ula kembali menjadi salah satu kota penting di Arab Saudi hingga saat ini.

Al Ula Old Town City
Al Ula Old Town City, tempat ini dulunya dijadikan sebagai pasar, tempat penduduk melakukan barter bahan-bahan keperluan sehari-hari untuk penduduk sekitar dan peziarah
Al Ula Old Town City, Saudi Arabia
Kota Al Ula dibangun jauh dari perbukitan dan dekat dengan benteng. Ini demi keamanan warga Al Ula. Ada 1032 rumah berdiri di sini. Satu per satu rumah di sini mulai ditinggalkan penghuni nya dan keluarga terakhir tinggal di sini hingga tahun 1983. Kini pemukiman kota tua ini ditinggalkan tidak berpenghuni dan menjadi situs bersejarah.
Al Ula Old Town City, Saudi Arabia
Dulunya tempat ini adalah pasar tempat bertemu penduduk lokal dengan para peziarah dari Yaman, Jordan, Syria, Mesir dan sebagainya
Al Ula Old Town City, Saudi Arabia
Menelusuri pemukiman penduduk yang mirip kampungnya Aladdin. Namun cerita Aladdin terbilang baru dibandingkan keberadaan kota Al Ula. Kota ini masih berdiri cukup kokoh. Mungkin jika tidak dirawat tinggal menunggu waktu dimakan rayap dan rusak karena paparan sinar matahari, angin dan hujan.
Al Ula Old Town City, Saudi Arabia
Bekas-bekas rumah di Al Ula Old Town City. Umumnya ukuran rumah di sini tidak terlalu besar dan hanya terdiri dari dua lantai, lantai pertama digunakan sebagai tempat penyimpanan makanan dan hewan-hewan peliharaan, sementara lantai kedua digunakan sebagai tempat tidur dan berkumpul keluarga.
Al Ula Old Town City, Saudi Arabia
Sudut-sudut pemukiman penduduk di kota Al Ula. Bangunan masih tampak kokoh hingga saat ini.
Al Ula Old Town City, Saudi Arabia
Gaya arsitektur kota tua Al Ula khas gaya arsitektur Arab dengan bangunan kotak-kotak
Al Ula Old Town City, Saudi Arabia
Dari kampung pemukiman penduduk, menuju pasar tempat penduduk melakukan barter dan jual beli pada sesama penduduk lokal dan peziarah asing yang melintas
Al Ula Old Town City
Memasuki lokasi pasar di Kota Tua Al Ula, jaraknya bisa ditempuh berjalan kaki dari pintu masuk kota menuju pasar di area terbuka
Al Ula Old Town City, Saudi Arabia
Bangunan-bangunan tempat penduduk melakukan barter dan jual beli
Al Ula Old Town City, Saudi Arabia
Area pasar, tempat penduduk melakukan barter dan jual beli
Al Ula Old Town City, Saudia Arabia
Area pasar, tempat penduduk melakukan barter dan jual beli
Al Ula Old Town City, Saudi Arabia
Pemukiman kota tua Al Ula tampak dari jalan raya yang dibangun pada era modern. Di sebelahnya merupakan benteng kerajaan Nabatean untuk melindungi penduduk Al Ula dari serangan musuh.
Al Ula Old Town City, Saudi Arabia
Kota Tua Al Ula tampak dari atas benteng. Kota ini memiliki 14 pintu, orang lokal menyebutnya Aswar. Pintu-pintu itu dibuka pada pagi hari dan ditutup pada malam hari.

Hejaz Railway

Siapa bilang Arab Saudi tidak pernah memiliki sistem transportasi kereta api ? Meskipun memang bukan kerajaan Saudi sendiri yang membangunnya, namun Arab Saudi pernah memiliki perlintasan kereta api yang menghubungkan kota Damaskus di Syria menuju Madinah dan Mekah. Perlintasan ini dibangun pada masa Dinasti Ottoman Turki di bawah pemerintahan Sultan Abdul Hamid tahun 1900.

Pembangunan cukup menantang karena kontur padang pasir yang menyulitkan, cuaca panas, kurangnya air, juga masalah korupsi, tenaga kerja dan keamanan di Arab Saudi sendiri. Namun, keberadaan lintasan kereta api ini mendapat dukungan dari pemimpin Muslim di Jazirah Arab pada saat itu. Akhirnya setelah delapan tahun dan memakan banyak korban pekerja tewas karena kekurangan makanan dan air, Hejaz railway berhasil digunakan untuk melayani peziarah dari Asia dan Eropa, sayangnya kemudian hancur ketika perang dunia pertama sekitar tahun 1914 dan tidak pernah dibangun lagi setelah itu. Sisa-sisa perlintasan kereta lengkap dengan lokomotif dan gerbongnya masih tersimpan di kota Al Ula, Madinah dan Tabuk, juga di Amman (Jordan) dan Damascus (Syria). Di kota-kota inilah stasiun kereta Hejaz berada pada masa itu. Dulunya lokomotif dan gerbongnya terbengkalai begitu saja, kemudian mengalami restorasi setelah Madain Saleh dinobatkan sebagai salah satu warisan dunia yang dilindungi Unesco.

Hejaz Railway ini terletak tidak jauh dari situs arkeologi Madain Saleh. Jejak rel kereta masih ada dan tersambung dengan rel kereta yang ada di Madinah. Ada juga museum Hejaz di sini, sayangnya ruangan museum hanya berisi foto-foto dan brosur dengan informasi dalam tulisan Arab gundul. Tidak ada information center yang bisa membantu para turis. Kami sempat mengunjungi Hejaz Railway Museum di Madinah, tapi kami kurang beruntung karena museum sedang tutup dan entah kapan dibuka kembali.

Hejaz Railway di Al Ula
Stasiun Hejaz Railway di Al Ula
Hejaz Railway di Al Ula
Lokomotif dan gerbong di stasiun Hejaz Railway. Masih tampak baru, sepertinya baru mengalami restorasi.
Hejaz Railway di Al Ula
Gerbong kereta di museum Hejaz Railway Al Ula. Tidak banyak keterangan yang bisa didapat dari ruangan ini.

Dari Hejaz Railway, masih ada rangkaian cerita yang akan saya bagikan, diantaranya situs Al Hijr atau Madain Saleh yang diceritakan dalam Al Quran dan Injil, serta situs arkeologi Al Khuraybah, bekas reruntuhan kota kerajaan Dedan yang baru ditemukan dan digali para ahli arkeologi beberapa tahun belakangan ini bisa disimak di Pura-pura jadi Indiana Jones, menelusuri jejak kaum Tsamud di Madain Saleh (Al Hijr), Saudi Arabia.

Cerita ini masih merupakan lanjutan dari cerita umrah trip sebelumnya :

Baca juga :

Nantikan cerita selanjutnya ya 🙂

Happy traveling ! 🙂

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. mysukmana says:

    wah serem juga..di arab juga banyak hantu ya..kirain malaikat semua hehehe…tapi kota yang ditinggalkan rata2 memang gitu sih

    Like

    1. Sheika Rauf says:

      Bukan berhantu beneran mas, cuma memang sudah lama gak berpenghuni jadi kesannya berhantu, padahal kami gak nemu hantu ☺️

      Like

  2. selamat pagi mba

    mba itu 2260 Usd sudah semua org yg diajak umroh mba?

    Like

    1. Sheika Rauf says:

      Selamat pagi. Itu budget per orang bukan semuanya

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s