Glamping di tengah gurun Al Ula, Saudi Arabia, kota tua sejak 1000 tahun sebelum masehi

“Kamu yakin ini jalannya ?”. “Kamu tahu dari mana tempat ini ?”. “Ada teman kamu yang sudah pernah ke sini ?”. “Bunda, ini kita mau ke mana ?”. “Ini kok kaya tempat gak berpenghuni.”. Begitulah rentetan pertanyaan demi pertanyaan dari ayah, suami dan Zola, anak saya, ketika kami berada in the middle of nowhere alias antah berantah. Saya lah sang tour leader, jadi semua menunjuk pada saya.

Hanya ada gurun pasir sejauh mata memandang, jalan pun tak lagi beraspal. Tidak ada orang lain, hanya kami berempat termasuk pak sopir yang mengantar kami. Saya sebenarnya juga sedikit panik tapi tetap berusaha cool. Wajar lah kalau panik, kami di negeri orang yang tidak kami kuasai rimbanya. Ditambah lagi dengan perkataan pak sopir, “selama tujuh tahun saya bekerja di Saudi, baru kali ini saya dibawa ke tempat seperti ini.” Dag dig dug duarrrrr ! Saya berusaha mengatur detak jantung supaya tetap tenang.

Ditambah lagi, kami baru saja diberhentikan polisi di tengah jalan menuju ke sini. Tiba-tiba saja mobil polisi memberi tanda bahwa mobil kami harus menepi, padahal tidak ada pelanggaran apapun yang dilakukan pak supir. “Biasa ini mbak. Polisi cuma mau periksa aja apakah surat-surat yang dibawa lengkap,” kata pak supir sambil turun lengkap dengan passpor kami. Syukurlah tidak ada masalah berarti. Polisi pun akhirnya mempersilakan kami melanjutkan perjalanan.

IMG_4363
Mobil polisi yang memberhentikan mobil kami

Mobil mogok di tengah jalan

Waktu menunjukkan sekitar pukul 1 siang, matahari sangat bisa memanggang telur di atas pasir. Mungkin suhu saat itu berkisar sekitar 45 derajat celcius. Di luar cukup panas. Namun di dalam mobil sedan Lexus, kami tetaplah merasa nyaman berkat AC dan tempat duduk yang empuk. Si mobil lah yang ternyata tidak merasa nyaman. Dari jalan raya beraspal, mobil berbelok mengikuti tanda panah “Sahary Al Ula”, lalu jalan berkelok-kelok masuk ke kawasan gunung berbatu yang berpasir, tidak lagi beraspal. Pak sopir sudah was-was. Beliau bilang seharusnya bukan mobil sedan yang dibawa ke medan seperti ini. Yah maaf pak, saya pun tidak tahu bahwa kondisi nya seperti ini. Dari review yang ada, lokasi nya memang agak sulit dicari, tetapi saya tidak menyangka akan menempuh jalan berpasir tak beraspal begini.

Yang dikhawatirkan pun terjadi. Mobil sudah tidak bisa maju lagi. Kaki-kaki roda sepertinya sudah terpendam dalam pasir, sulit berjalan lagi.

Sekitar 200 meter tempat mobil mogok, kami melihat bangunan bercat hijau. “Itu mungkin hotel nya,” sahut saya agak kurang yakin. “Di tempat seperti ini ?,” kata suami saya menambah ketidakyakinan. Tidak ada papan petunjuk yang menunjukkan bahwa itu adalah penginapan. Suasana sepi sekali tidak satu pun manusia yang terlihat. Hanya ada kami berlima.

Sahary Al Ula Camp
Jarak dari mobil mogok menuju Sahary Al Ula Camp

“Satu-satu nya cara untuk memastikan adalah nyamperin ke sana jalan kaki,” ajak saya. Saya gak bisa menghubungi hotel karena sinyal byarpet. Selain itu nomer yang saya gunakan masih nomer indonesia. Selama ini, saya berkomunikasi dengan pihak hotel hanya via email. Akhirnya diputuskan, saya, suami dan pak sopir melanjutkan jalan kaki menuju bangunan hijau itu, sementara ayah dan zola menunggu di mobil.

Zola dan ayah saya sama resahnya. Pak sopir malah menyarankan kami membatalkan penginapan dan kembali ke madinah bersama nya. “Ngapain mba nginep di sini. Kayak kurang kerjaan aja,” katanya. Saya dan suami mengangguk tanda setuju. “Kita ngomong dulu sama pihak hotel nya, pak,” jawab saya.

Kami bertiga pun beranjak menuju bangunan hijau berjalan kaki. Mendekati bangunan, kami masih belum menemukan tanda-tanda kehidupan.

Sesampainya di kompleks bangunan hijau, saya clingak clinguk mencari ruangan receptionist, lalu menemukan pintu tertutup bertulisan arab yang saya yakini bahwa itulah ruangan yang kami cari.

Tok..tok..tok. Tanpa menunggu lama mengetuk pintu, seorang laki-laki berwajah antara Bangladesh-Pakistan-India menyambut kami dengan mata merah. Saya menebak bahwa ia baru saja terbangun dari tidurnya. Ia mempersilakan kami masuk dan duduk dengan bahasa tubuh, kemudian ia pun ke luar ruangan.

Tak lama, seseorang yang saya duga adalah bos si penjaga tadi datang menghampiri. Dengan senyum lebarnya, pria yang bernama Mohammed asal Mesir ini menyambut kami dengan ramah dan mengurus administrasi check in. Kami agak ragu akan meneruskan bermalam di sini atau kembali ke madinah saja. Untuk meyakinkankan, saya pun bertanya, “is this place safe ? Why there’s no one else but us here ? Where are other guests ?” Seperti sudah sering mendapatkan pertanyaan semacam itu, Mohammed malah mengajak kami berkeliling untuk membuktikan bahwa area camp sangat aman dan menyenangkan untuk anak. Katanya tamu-tamu biasanya datang agak sore menjelang malam. Saat itu semua tamu sudah check out.

Setelah berkeliling melihat kondisi glamping ini, kami pun akhirnya memutuskan untuk tetap bermalam di sini. Kalau kami batalkan, maka tak ada refund.ย Lagipula penginapan ini terlihat menyenangkan dan jadi pengalaman baru buat kami. Camping yang glamour di tengah gurun dan dikelilingi gunung berbatu, dengan fasilitas kamar ber-AC, tempat tidur empuk, kamar mandi dilengkapi shower, wifi yang sinyalnya mati nyala, dan TV. Jadilah glamping, glamour camping !

Mohammed pun memanggil anak buahnya untuk mengambil koper-koper kami di mobil yang stuck beberapa meter dari penginapan. Pak driver dibantu beberapa staf dari Al Ula memperbaiki mobil dan kemudian kembali ke Madinah.

Benar saja. Semakin sore, beberapa tamu terlihat mulai berdatangan. Beberapa membawa keluarga dengan anak-anak mereka. Kebanyakan mereka sepertinya adalah penduduk lokal Saudi Arabia yang berlibur di sini. Ada juga terlihat pasangan bule yang kemungkinan ekspatriat. Semua tamu terlihat berkumpul di malam hari karena Mohammed dan staff nya sudah menyajikan menu barbecue untuk kami.

Saos Sambal
Di tengah gurun pun ada saos sambal ! Kebahagiaan tersendiri

Kebun binatang minimalis di area glamping

Kami tidak menyangka kalau di penginapan di tengah gurun dan dikelilingi gunung batu ini ada kebun binatang juga. Mohammed sebenarnya sudah menyebutkannya saat kami check in, tapi saya sempat pesimis dan tak berharap banyak. Memang sih hewannya tidak banyak, tapi inipun sudah menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Zola. Selesai sarapan, dia langsung menuju kebun binatang. Anak tropis ke kebun binatang di tengah gurun sih cukup bercelana pendek saja :D.

Zola and the ostrich
Talking with Ostrich is fun ๐Ÿ™‚
Zoo in Sahary Al Ula
Kambing gunung di Sahary Al Ula Camp. Katanya suka muncul sewaktu-waktu (foto : Sahary Al Ula Camp)

Ternyata memang tempat ini ramah anak, meskipun lokasinya sungguh di luar dugaan. Jika musim liburan, glamping di sini bisa fully booked. Katanya pengunjungnya memang rata-rata keluarga dengan anak-anak. Tapi menurut Mohammed jarang sekali ada orang asia, apalagi dari Indonesia, mampir ke sini.

Sahary Al Ula Camp
Anak-anak main di sekitar camp

Glamping Sahary Al Ola camp ini memang mendapatkan review yang baik sekali dari Trip Advisor ataupun Booking.com, terutama karena keramahan para staff nya, tepatnya saya rasa karena keramahan dan profesionalitas Mohammed, karena staff lainnya tidak berbahasa inggris.

Sahary Al Ula Camp
Bersama Mohammed, sang manager Sahary Al Ula Camp

Cara ke sana

Untuk reservasi bisa langsung ke sini. Sementara harganya masih standar harga hotel bintang lima di Jakarta untuk fasilitas glamping di tengah gurun Arab Saudi. Harga menginap sudah termasuk sarapan. Kecuali untuk makan malam, tamu dikenakan biaya tambahan dan ini pun pilihan. Tapi karena letaknya di tengah gurun begini, tak ada restoran lagi di tengah gurun, kami justru tak punya pilihan ๐Ÿ˜.

Jika menginginkan fasilitas antar jemput, bisa mengirimkan email langsung pada pengelola (Mohammed) melalui situs booking.com. Untuk menuju Al Ula sebenarnya bisa naik bus Saptco dari Mekkah atau Madinah dan turun di Al Ula, setelah itu minta Mohammed menjemput di terminal Al Ula. Tapi jika ingin lebih nyaman, lebih baik minta dijemput di Mekkah atau Madinah saja, tentunya dengan biaya lebih.

Al Ula dan kota-kota lain, di Saudi Arabia, selain Mekkah dan Madinah, bisa dikunjungi siapapun, bukan hanya umat muslim. Di sini juga dibolehkan tidak memakai hijab namun tetap berpakaian sopan.

Untuk saat ini pemerintah Saudi Arabia hanya membuka visa bisnis untuk non muslim, namun rencananya akan segera dibuka visa pariwisata. Semoga yaa โ˜บ๏ธ

Cerita tentang eksplorasi Kota Al Ula :

Cerita tentang umroh mandiri yang lain bisa diintip di :

Happy traveling ! ๐Ÿ™‚

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Vickry Wahidji says:

    Salam mbak
    Saat ini saya lagi umrah di Madinah. Ada sekitar 2 hari bisa utk gunakan ke Madain Saleh.
    Bisa minta tolong kontak person utk transportasi ke sana. Kl utk Madain Saleh apa bisa pulang hari aja? Yg penting bisa liat situs2 di sana. Budgetnya brp?

    Makasih sebelumnya
    Vickry

    Like

    1. Sheika Rauf says:

      Salam mas. Terima kasih sudah membaca. Coba mas googling travel & tourism agent saudi arabia. Karena skrg saudi sudah membuka pintu pariwisata utk siapapun, pasti travel agent banyak di sana. Untuk budget biasanya per trip, 1000 riyal per trip ke madain saleh. Pulang hari terlalu jauh karena jarak dari madinah ke madain saleh kurang lebih 5 jam one way

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s