(Tips) Membawa anak umroh backpacker di bulan Ramadhan

“Kita insya Allah berangkat umroh ya, nak !,” ajak saya suatu hari. Sebetulnya saat itu, Zola belum begitu mengerti apa itu umroh, seperti apa, mau ke mana, hendak ke mana. Maka di situlah kami menjelaskan tentang apa itu umroh, apa saja yang akan kita lakukan dan  melihat video-video tentang umroh di youtube. Di usia nya yang baru 8 tahun, saya kesulitan memintanya menghafal bacaan umroh. Kami saja tidak mungkin menghafal semuanya, sudah pasti nyontek. 😀 “Kita akan berangkat ke Mekah, kota tempat Nabi Muhammad dilahirkan,” lanjut saya. Zola pun girang. Buat dia, yang penting jalan-jalan 😀

  • Pengkondisian sebelum berangkat

Saya juga ceritakan kondisi di sana dengan menunjukkan video dan foto-foto di google. Kami sendiri sebenarnya belum pernah umroh. Dengan begitu. setidaknya, Zola sudah punya bayangan, tempat seperti apa yang akan dia kunjungi. Saya jelaskan kalau cuaca di Arab Saudi lebih panas daripada di Jakarta dan lebih padat orang. Waktu berpuasa di Mekah pun lebih panjang dari waktu berpuasa di Jakarta. Saya minta agar dia nanti istirahat dan makan yang cukup, minum banyak saat sahur dan berbuka, dan nasehat-nasehat lainnya. Ini saya lakukan untuk mengkondisikan fisik dan mentalnya, supaya Zola lebih siap.

Sewaktu mempersiapkan pakaian ihram, Zola juga saya ajak berbelanja. Selain pakaian ihram, saya siapkan juga beberapa gamis dan baju koko untuknya. Memang, sih, gamis dan baju koko ini bukanlah pakaian yang wajib selama di sana. Saya lihat anak-anak seumuran Zola di sana malah banyak yang pakai kaos dan celana. Gamis banyak dipakai ketika mereka hendak sholat. Selebihnya, pakaian biasa saja.

Ini umroh pertama buat Zola. Sewaktu TK, Zola pernah mengikuti manasik khusus untuk anak-anak bersama teman-temannya. Cerita-cerita tentang Nabi Ibrahim, Ka’bah, Masjidil Haram, dan Nabi Muhammad tentunya sudah familiar di telinganya mengingat Zola bersekolah di sebuah sekolah islam. Cerita ini kami perdengarkan lagi ke Zola begitu kami berniat untuk umroh, hingga sebelum keberangkatan.

Sampai saat keberangkatan tiba. Zola pun terserang batuk :(. Sudah beberapa kali saya mengalami seperti ini. Pas mau berangkat traveling, pas anak sakit. Jadilah saya bekali dia obat batuk dan paracetamol (jaga-jaga kalau demam) untuk di perjalanan.

Berangkat Umroh Juni - Juli 2017, di Airport Soekarno Hatta
Happy face sebelum berangkat 🙂
on the way to Jeddah, Saudi Arabia Airlines
Anaknya fokus nonton, emaknya fokus tidur 🙂
  • Tidur dan makan cukup selama di perjalanan supaya fit dan gak cranky

Tidur di pesawat memang bukanlah perkara mudah untuk saya, meskipun saya berusaha sekeras mungkin, saya hampir tidak pernah tertidur di pesawat. Namun tidak demikian dengan Zola. Begitu semua lampu di dalam pesawat dipadamkan, saya minta Zola tidur. Ini untuk menjaga stamina nya yang saat itu kurang fit. Biasanya kalau sudah dikondisikan begitu, dia akan tertidur.

Kami tiba di Jeddah tengah malam. Setelah melewati petugas imigrasi dan drama keluar dari airport, kami pun sampai di Mekkah sekitar pukul 2 dini hari. Untungnya selama proses keluar dari airport : menunggu bagasi, mencari uber, menawar taksi gelap, dan sebagainya, Zola tidak rewel sedikitpun. Ia tetap mengikuti saja ke mana kami melangkah. Mungkin ini sebuah pengalaman baru untuknya. Digerumuti supir-supir taksi gelap yang menawarkan jasa untuk mengantarkan kami ke Mekah.

Zola and Yanda in ihram outfit
Siap-siap umroh
  • Jangan lewatkan sahur dan jangan lupa banyak minum saat sahur

Sampai di hotel, kami langsung sahur di restoran hotel dan siap-siap umroh. Zola dengan pakaian ihram nya, mata nya terbuka lebar, antusias, ingin melihat seperti apakah Ka’bah itu. Alhamdulillah, suhu di luar hanya sekitar 35 derajat celcius. Kurang lebih sama dengan suhu di Jakarta.

Sahur di hotel
Sahur di hotel sebelum umroh
Zola di depan Ka'bah
Zola di depan Ka’bah, selesai tawaf
  • Manfaatkan fasilitas electric wheel chair di Masjidil Haram untuk tawaf dan sa’i

Hal yang paling membuatnya kegirangan melakukan ibadah umroh adalah saat kami mengendarai electric wheel chair dan Zola dibolehkan mengemudikannya sendiri, tentunya ia tidak sendirian. Electric wheel chair ini diperuntukan untuk jamaah yang membawa anak kecil, jamaah yang tidak bisa dan tidak kuat berjalan, jamaah manula, atau siapapun yang membutuhkannya. Tentunya tawaf dan sa’i dengan electric wheel chair ini dilakukan di tempat terpisah, di lantai 3, agar tidak mengganggu jamaah lain yang berjalan.

Electric Wheel Chair
Electric Wheel Chair
Electric Wheel Chair
Aseeeeeek, boleh nyetir sendiri…… 🙂

 

  • Hindari kerumunan orang banyak.

Sebetulnya ini agak sulit dilakukan apalagi kalau sudah memasuki Masjidil Haram maupun masjid Nabawi, mengingat hasrat hati terlalu besar ingin mendekati makam Rasulullah, Multazam ataupun Hajar Aswad.

Seperti pengalaman kami saat berhasil mendekati Multazam dan Hajar Aswad. Ini pun kami lakukan setelah Ramadhan di mana jamaah sudah tidak sepadat saat bulan Ramadhan, meskipun masih saja berdesakan. Agar tidak tergencet orang dewasa, Zola digendong suami sambil mengambil foto dan video dari atas. Ketika sudah mencapai tujuan, kami tidak berlama-lama dan segera dari kerumunan.

Di Multazam
Kerumunan jamaah yang mau masuk ke Multazam

Bulan Ramadhan adalah salah satu masa puncak keramaian orang. Di waktu-waktu sholat terutama, jamaah bisa membludak sampai keluar Masjidil Haram. Kami lebih senang melakukan tawaf dan sa’i di lantai atas yang cenderung lebih sepi. Lupakan saja keinginan untuk mendekati Ka’bah jika jamaah sudah sampai luber. Zola sempat dibawa tawaf saat situasi Ka’bah sangat padat. Akhirnya dia mengeluh karena sering disikut dan didorong orang-orang besar dari depan, belakang, kanan dan samping. Hari berikutnya, suami saya membawanya ke lantai atas yang lebih ramah untuknya.

  • Tidak usah terlalu ambisius

Umroh di bulan Ramadhan, apalagi dengan jam berpuasa lebih panjang dari di Jakarta dan suhu udara lebih panas, mendekati 50 derajat celcius, saya tidak memaksakan Zola untuk ikut berpuasa seharian penuh. Ada kalanya ia bisa menyelesaikan puasanya dari sahur hingga maghrib, namun ada kalanya dia berbuka di tengah-tengah. Apalagi waktu kami mengejar bus dari Mekah ke Madinah, kondisi di terminal bus sangat panas dan padat orang. Saya pun membolehkan Zola untuk berbuka karena wajahnya sudah memerah dan sangat kehausan.

Begitupun dengan sholat berjamaah di Masjidil Haram. Kami tidak memaksa Zola untuk keluar sholat Zuhur dan Ashar berjamaah di masjid, di saat matahari sedang diskon murah meriah. Lokasi hotel kami cukup jauh untuk Zola berjalan kaki ke Masjidil Haram. Lebih baik saya menemani Zola di hotel dan baru keluar untuk sholat di saat matahari belum terbit dan ketika matahari akan terbenam. Suhu nya lebih bersahabat untuk Zola.

Alhamdulillah, umroh mandiri kami berjalan lancar tanpa kendala berarti kecuali Zola terserang batuk selama di sana. Ketika obat batuk yang dibawa dari Jakarta sudah habis, saya belikan permen strepsil dan obat batuk pilek di apotek di Mekah. Tidak begitu menyembuhkan, sih, hanya melegakan. Meskipun begitu, Zola bisa tetap enjoy !

Happy plesiran ! 🙂

 

 

 

 

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Sari says:

    Makasi shareny mb..km jg merencanakan umroh ramadhan. Mau tau yg lbh detail ni

    Like

    1. Sheika Rauf says:

      Silakan kirim email ke travelcoach@familygoers.com yaa untuk tanya visa nya. Kalau mau tanya2 tips2 lain selama umroh. silakan kirim email ke saya di plesirankeluarga@gmail.com

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s