Mengurus visa dan persiapan umroh mandiri tanpa travel agent atau travel group

Sudah lama saya dan suami ingin melakukan perjalanan umroh, namun tanpa diatur travel agent. Kalau istilah kekiniannya sekarang, umroh backpacker, tapi kalau saya lebih senang menyebutnya dengan umroh mandiri. Karena keluarga kami yang hobi plesiran, tentunya kalau ada kesempatan umroh, kami tak ingin melewatkan kesempatan plesiran ke tempat-tempat lain, selain Mekah dan Madinah. Mumpung ada di jazirah Arab dan tiket pesawat ke sini juga gak murah, jadi sekalian aja kan yah. (Ini hanya alasan pribadi aja supaya setelah umroh bisa lanjut plesiran, tidak ada satupun ayat yang mensunnahkan apalagi mewajibkan plesiran setelah umroh :D)

Sekarang, banyak travel agent yang mem-bundling perjalanan umroh dengan jalan-jalan ke Mesir, Turki, Jerussalem, sampai Eropa. Pingin sih, cuma mahalnyaaaaa… Dan belum tentu agenda nya sesuai dengan harapan kami. Jadi ya sudahlah, sambil mengumpulkan pundi-pundi, sambil mencari-cari informasi tentang umroh mandiri ini, kami sabar menunggu. Saya percaya kalimat mantra ini, if there’s a will, there’s a way. 🙂

Sebenarnya apa, sih, kelebihan dan kekurangan umroh mandiri dibandingkan dengan umroh bersama rombongan travel ? Apakah sulit merencanakan sendiri perjalanan umroh ini ? Berapa biayanya ? Bagaimana dengan itinerary nya ? Tiga pertanyaan terakhir sering jadi pertanyaan. Saya akan paparkan satu per satu dalam rangkaian tulisan yaa. Silakan disimak. 🙂

Namun sebelumnya, ada dua syarat utama untuk berhasil survive dengan umroh mandiri : (1) bisa berbahasa inggris dan (2) pernah melakukan perjalanan mandiri ke luar negeri. Dua syarat ini memang bukan syarat mutlak, namun jika tidak punya dua syarat itu, tentulah perjalanan yang akan ditempuh lebih berat dan terjal lagi, apalagi tidak bisa berbahasa inggris, tidak pula berbahasa arab. Mau pakai bahasa tarzan kah selama di sana ?

Kelebihan dan kekurangan umroh mandiri

Ketika kami memilih melakukan umroh mandiri daripada bersama rombongan travel, tentunya ada kelebihan dan juga kekurangan atau risiko yang harus kami hadapi. Ini adalah perjalanan umroh pertama kami. Jadi kami bertiga betul-betul awam tentang umroh, Mekah dan Madinah. Hanya ayah saya yang pernah umroh, itupun berangkat dengan travel agent yang segalanya sudah tau beres.

Namun kami tetap memberanikan diri melakukan umroh mandiri dan inilah beberapa kelebihan yang kami rasakan dari umroh mandiri :

  • Lebih bebas dan fleksibel menentukan waktu dan tempat-tempat yang ingin dikunjungi. Mau lama ataupun sebentar saja, mau leyeh-leyeh dulu ataupun stay agak lama, terserah keputusan kami. Tentu ini lebih menguntungkan bagi kami, family traveler, dengan anak kecil yang seringnya sulit disuruh buru-buru.
  • Traveling tanpa seragam dan name tagMenurut kami, ini adalah salah satu kelebihan karena kami tidak usah terlalu dicirikan siapa dan dari mana kami berasal.
  • Lebih seru dan memorable, karena kami tidak harus mengekor ketua tim, maka kami harus mengamati lokasi yang kami kunjungi untuk mencari hotel tempat menginap atau lokasi yang kami tuju. Dari sini saja banyak suka dan dukanya 🙂
  • Belajar lebih banyak. Trip mandiri seperti ini dituntut untuk berpikir lebih karena kami merencanakan segalanya sendiri dan berinteraksi langsung dengan orang lokal. Justru di sinilah kami jadi banyak belajar.
  • Lebih murah. Ini salah satu kelebihan yang paling saya sukai. Biaya lebih murah dari yang ditawarkan travel agent, karena kita tidak perlu membayar jasa staf mereka dan biaya-biaya lainnya. Biaya yang kita keluarkan langsung tertuju untuk hotel, transortasi, makanan untuk pribadi.
Berangkat Umroh Juni - Juli 2017
Berangkat umroh, tanpa seragam dan name tag yang melekat
Berangkat Umroh Juni - Juli 2017, di Airport Soekarno Hatta
Berangkat umroh, tanpa seragam dan name tag yang melekat

Selain kelebihan, tentu ada juga kekurangan umroh mandiri ini. Inilah kekurangannya :

  • Harus mau repot. Karena segalanya dari A – Z harus diurus sendiri, maka harus ikhlas repot, dari mulai ngurus visa, cek tiket pesawat, cari transportasi, bikin itinerary, sampai harus berhubungan langsung dengan orang lokal.
  • Berkurang kenyamanan, karena semuanya harus dikerjakan sendiri, termasuk mengangkut koper dan tentengan lainya. Tapi tenang saja, semua nya akan terbayar begitu melihat Mekkah, Madinah, dan tempat-tempat lain yang ingin dituju.
  • Tidak ada tempat bergantung. Jika ada kesulitan, tidak ada seseorang sebagai tempat bergantung untuk mencari solusi. Solusi nya harus dicari sendiri. Mau bertanya ini itu harus mengandalkan orang lokal dan internet. Menurut kami, di situ lah tantangannya. Lagipula mengapa harus takut tak ada tempat bergantung, kan ada Allah. 🙂
  • Kurang teman. Kalau berangkat dengan rombongan, tentunya kita akan banyak kenalan baru dibandingkan berangkat umroh sendiri. Kalau mau ke mana-mana pun, bisa selalu bersama teman-teman rombongan ini. Tidak seperti umroh mandiri, tidak ada teman. Ke masjid pun seorang diri (curcol) :D. Namun tak perlu khawatir, tanpa rombongan pun, kita masih bisa menjalin pertemanan baru dengan orang-orang di jalan :).
  • Merasa tidak safe. Ini sering dirasakan banyak orang, apalagi ada saja cerita negatif tentang keamanan di Saudia Arabia, terutama untuk perempuan. Namun sebenarnya, kenyataannya tidak semenyeramkan itu, yang penting kita harus tetap waspada.

Persiapan yang harus dilakukan…

  1. Niat dan keinginan kuat. Dua hal ini harus dimiliki dalam setiap urusan, apalagi menyangkut umroh. Sebelum umroh terlaksana, pastikan Anda sudah memiliki niat dan keinginan kuat terlebih dulu. Ingatlah mantra, “if there’s a will, there’s a way” atau dalam pepatah Arab “Idza Shodaqol ‘Azmu Wadhoha-Sabiil” yang kurang lebih memiliki arti sama.
  2. Cari informasi. Jangan malas untuk mencari informasi tentang umroh dan Saudi Arabia. Informasi banyak bertebaran di internet. Banyak orang pernah melakukan umroh mandiri dan meninggalkan jejaknya di internet. Gunakan bahasa inggris selain bahasa indonesia untuk keyword di google search. Kalau ada kenalan yang pernah atau sedang tinggal ke sana, bolehlah dihubungi untuk dapat masukan tentang kondisi di sana.
  3. Visa. Tanpa visa, maka umroh tidak akan terlaksana. Sayangnya, untuk Indonesia, pemerintah Saudi Arabia tidak melayani permohonan visa individu. Visa hanya akan diterbitkan lewat travel agent. Ada alasan di balik ini, yakni pemerintah Saudi menghindari adanya orang-orang yang tidak pulang ke Indonesia ketika masa berlaku visa habis. Di sinilah travel agent menjadi penjamin bagi jamaahnya. Tidak semua travel agent mau membantu mengurus visa individu, karena adanya keharusan jaminan itu. Alhamdulillah, setelah pencarian, kami menemukan satu travel agent yang bisa dimintai jasanya hanya untuk pengurusan visa dan tiket pesawat. Proses mengurus visa nya cukup lama dan membuat kami was-was. Bagaimana tidak was-was, visa baru approved hanya 6 hari sebelum jadwal keberangkatan kami. Jadilah huru-hara mempersiapkan itinerary dimulai. Di sinilah serunya ! 🙂
  4. Reservasi hotel dan transportasi. Setelah visa approved, maka langkah selanjutnya adalah mereservasi hotel tempat menginap. Karena kami berangkat di akhir Ramadhan yang berarti sedang peak season, maka harga akomodasi pun naik berkali lipat. Transportasi di Saudi Arabia memang agak merepotkan, tapi banyak taksi tersedia dan ada juga taksi online. Kalau ingin pindah kota pun, seperti dari Mekah ke Madinah, Mekah ke Jeddah, dan sebaliknya, tersedia public transport Saptco milik pemerintah. Penyewaan mobil pribadi pun ada. Pastikan itu semua sudah masuk dalam rencana itinerary. Namun perlu diingat, dengan visa umroh, maka kita tidak boleh menyewa mobil tanpa supir.
  5. Belajar tata cara umroh. Cari tau tentang tata cara umroh, urutan dan doa-doa nya. Praktikan sendiri dulu di rumah. Lebih baik lagi kalau Anda bisa meminjam buku saku umroh dari teman. Travel agent tempat kami mengurus visa umroh ternyata memberikan paket koper, bagpack, tas selempang, yang sudah dilengkapi dengan buku saku umroh sebelum keberangkat. Plus, teman baik saya memberikan bekal umroh audio guide.
  6. Belanja perlengkapan umroh. Ingat ! Tidak perlu kalap untuk yang satu ini. Ada beberapa tempat yang menyediakan perlengkapan umroh. Satu yang paling mudah saya jangkau adalah Planet Haji Umroh, lantai 3A di Thamrin City. Toko ini juga menjual baju koko, baju gamis laki-laki dan perempuan, bermacam kerudung dan aneka oleh-oleh umroh. Pakaian ihrom untuk laki-laki, baik dewasa dan anak-anak, sebenarnya banyak di jual di Mekah dan Madinah, terutama di tempat Miqat. Harganya sekitar 10 riyal. Untuk pakaian ihrom perempuan tidak harus putih, boleh memakai warna apa saja.
  7. Periksa kesehatan badan dan siapkan obat-obat yang dibutuhkan. Konsultasikan kesehatan dengan dokter sebelum berangkat. Karena kami juga membawa Zola, 8 tahun, maka sebelum berangkat saya konsultasikan dulu kondisi Zola dengan dokter anak dan melengkapi vaksin nya. Vaksin meningitis adalah salah satu syarat bisa berangkat umroh. Namun karena waktu semakin terdesak dan dari travel agent juga tidak ada instruksi vaksin, maka kami melewatkan vaksin ini dan berdoa semoga tidak terjadi apa-apa sepulang umroh. (Notes : Ini contoh tidak baik dan tidak patut ditiru ya. Sesungguhnya, vaksin itu amat penting !)

 

Itulah sejumlah langkah-langkah awal sebelum melakukan umroh mandiri ini. Silakan disimak rangkaian tulisan umroh mandiri selanjutnya. Jika membutuhkan bantuan untuk merencanakan itinerary umroh mandiri / umroh backpacker sampai dengan menentukan budget ideal, bisa hubungi Travel Coach Familygoers atau bisa langsung email ke travelcoach@familygoers.com yaa 🙂

Happy plesiran ! 🙂

Baca juga :

 

 

 

 

 

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. Anthon purbaya says:

    Sippp… cerita yg memberikan inspirasi uktuk saya pribadi… Kalau boleh,bisakah saya diberi tahu nama dan alamat agent pengurusan visa mandiri ke Saudi ?? (Baik no kontak atau email)

    Like

    1. Sheika Rauf says:

      Silakan kirimkan email ke travelcoach@familygoers.com yaa 🙂

      Like

  2. Galuh Montana says:

    Assalam alaykum..
    Very nice experience and many to learn from it mba Sheika Rauf. Makasih atas sharing tulisannya. Saya idzin share utk saya pelajari s3ndiri ya. Barakallah.

    Like

    1. Sheika Rauf says:

      Wa’alaikum salaam. Terima kasih sudah membaca. Dengan senang hati silakan di-share 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s