Menelusuri kota musik Wina, Austria, 3 spot wajib dikunjungi.

Haydn, Mozart, Beethoven dan Schubert. Empat nama besar komposer dari sekian banyak komposer-komposer yang sukses berkarir di Wina membuat kota ini terkenal sebagai kota musik. Pagelaran musik, sekolah musik sampai museum-museum tentang musik sangat dilestarikan di sini. Tak heran jika komposer besar dan karya-karya musik terkenal lahir dari Wina. Musik di kota ini, dari klasik hingga modern, menjadi terdepan di antara kota-kota lainnya di Eropa, bahkan di dunia.

Itulah yang menjadi highlight trip kami di Wina kali ini. Menelusuri jejak-jejak musik di Wina. In Vienna, music is in the air ! 🙂

Kami tiba di Wien Hauptbahnhof, stasiun utama kota Wina, setelah menempuh perjalanan sekitar 4 jam dari Praha hlavní nádraží, stasiun utama kota Praha.

Ikuti cerita tentang Praha di sini :

Wien Hauptbahnhof, stasiun yang melayani rute internasional ini terletak agak di pinggir kota Wina. Dengan muka sedikit lelah namun bahagia, kami keluar stasiun dan mulai merencanakan akan naik apa dari stasiun ke tempat penginapan yang sudah kami sewa lewat airbnb. Sebelum itu, ritual biasanya yang kami lakukan adalah membeli sim card lokal agar bisa terhubung terus dengan internet. Yah namanya juga mamah muda generasi millenial 😀

Karena hari juga sudah menjelang malam dan perut mulai lapar, kami memutuskan mencari tempat makan tidak jauh dari stasiun. Ada beberapa restoran dan kafe yang bisa ditemui di dalam stasiun. Tapi tak ada satupun yang bikin sreg dan pilihan pun jatuh pada restoran india ! :). Itupun tidak sengaja kami lewati ketika kami sudah mulai menjauh dari stasiun. Kami yang memang sudah merindukan makanan asia langsung girang melihat gambar makanan di depan etalase restoran kecil ini.

Tidak terasa sudah dua jam kami nongkrong di restoran ini untuk makan sambil berbincang dengan pemilik restoran yang orang india asli. Dari obrolan juga kami jadi tau kalau aplikasi google map sebagai petunjuk jalan tidak bisa digunakan di Wina. Di sini, orang lokal menggunakan aplikasi Qando.

img_3053
Aplikasi Qando menggantikan Google Map

Uber pun akhirnya menjadi pilihan kami menuju penginapan mengingat hari sudah malam, Zola sudah mengantuk dan kami membawa beberapa koper besar.

Hari berganti di Wina, saatnya memulai penelusuran kami di kota musik ini. Itinerary sudah diatur sedemikian ambisiusnya, namun ternyata semuanya harus berubah ketika kami tidak menemukan pintu masuk National Library – State Hall (ini tak perlu detil diceritakan yaa :D), dan di saat yang bersamaan ada dua orang yang menjajakan tiket konser musik klasik karya Mozart dan Strauss persis di dekat patung Mozart, tepatnya di Josefsplatz 1. Berhubung seumur hidup saya dan suami tidak pernah menonton konser musik klasik, di Wina pula, tawaran itu lantas kami iyakan saja. Curiga penipuan ? Tentu tidak, karena kedua orang ini menggunakan kostum bergaya ala Mozart, membawa poster besar, beberapa brosur dan yang pasti mesin edc untuk membayar tiket konser.

IMG_2529
Patung Mozart di Josefsplatz

Nonton konser musik di Wina

Sebenarnya kegiatan ini tidak direncakan dalam itinerary, tiba-tiba masuk dalam agenda karena ada yang menawarkan tiket konser ketika kami sedang mencari pintu masuk State Hall. Untuk harga tiket masuk konser sangat relatif. Bagi orang yang suka musik dan ingin pengalaman, mungkin harga mulai dari 600 ribu untuk konser dua jam bisa dibilang murah. Namun sebaliknya, bagi yang tidak suka musik apalagi traveling ala backpacker sejati, harga segitu sungguh sayang dikeluarkan. Kalau untuk kami, ini kesempatan yang tak tau apakah bisa terulang lagi. Kalau ditanya apakah konser ini ramah anak ? Tentu saja ! Pilihlah konser yang dimulai sedini mungkin untuk menghindari anak ngantuk.

Palais Auersperg di Auerspergstraße 1, saat kami datang, sudah dipenuhi pengunjung yang ingin menonton konser malam itu. Masih 30 menit lagi menuju dimulainya pertunjukkan. Jangan bayangkan pengunjung dengan gaun dan jas atau tuksedo. Hampir semua pengunjung mengenakan baju casual bahkan bersepatu keds seperti kami. Santai saja. Di lantai dasar dekat tangga disediakan tempat penitipan perlengkapan musim dingin seperti jaket dan sweater, juga tas besar. Kami memang datang di penghujung musim dingin. Semua barang saya titipkan termasuk dompet beserta segala kartu dan uang, passpor dan kamera. Alhamdulillah, tidak ada satupun yang hilang.

Seorang pemandu acara bertuksedo menyapa pengunjung ramah dan membuka acara, tanda dimulainya konser. Kemudian ia memanggil satu per satu : violinis, bassis, cellis, flutis sampai ke pianis. Alunan musik mulai terdengar indah, nada menari-nari. Kami mengenal hampir semua lagunya, begitu pula dengan Zola. Dijamin anak-anak tidak ngantuk nonton konser ini karena musik klasik dibawakan cukup enerjik. Tidak hanya monoton dengan musik, namun konser ini juga diwarnai oleh penyanyi seriosa dan penari balet. Suasana semakin cair ketika beberapa performer menampilkan adegan-adegan yang mengundang penonton tertawa.

Untuk lebih jelas bagaimana suasana konser, sila dilihat video liputan berbahasa mandarin yang di-upload oleh Vienna Residence Orchestra. Abaikan bahasanya bagi yang tidak mengerti :D.

Konser Musik di Wina
Menunggu konser dimulai sambil menunggu penonton yang lain masuk
Konser musik di Wina
Dari kursi belakang, Zola sangat antusias nonton konser
Konser musik di Wina
Saya di sela-sela pertunjukkan 🙂

Konser berakhir dan membuat semua penonton tersenyum puas, termasuk kami. Satu per satu personil membungkuk sopan ke penonton ingin pamit dari panggung. Arus penonton pun mulai meninggalkan ruangan dan mengambil barang masing-masing di tempat penitipan. Persis di depan Palais Auersperg, pemberhentian tram sudah menanti para pengunjung yang ingin melanjutkan perjalanan. Seperti kami yang naik tram untuk mencari makan malam.

Berkunjung ke rumah Mozart (Mozart Haus)

Mozart memang bukan berasal dari Wina. Ia dilahirkan di Salzburg. Mozart kecil telah menunjukkan talentanya sejak usianya masih balita. Di usia 5 tahun Ia menciptakan komposisi musiknya yang pertama, dan di usia nya yang ke-8, Mozart sudah menulis symphony pertamanya. Talenta ini sepertinya turun dari sang ayah, Leopold Mozart, yang juga seorang pemain biola tersohor di Austria.

Mozart kecil sering dibawa ayahnya berkeliling untuk menemaninya konser sambil memperkenalkan anaknya pada para bangsawan dan freemason. Di beberapa kota di Eropa, termasuk Wina, Mozart sering tampil memainkan komposisi ciptaannya dalam acara-acara pesta.

Di kota Wina, karir musik Mozart berkembang. Ia menjadi seorang performer dengan bayaran mahal. Seiring dengan itu, ia juga memiliki kehidupan dengan gaya hidup mewah. Di Wina, Ia bersama istrinya membeli sebuah apartemen mahal di sebuah daerah elit dan mengisinya dengan furniture yang mahal pula. Di situlah juga kedua anaknya dilahirkan dan disekolahkan di sekolah swasta yang mahal.

Seseorang yang penuh talenta seperti Mozart, ada kalanya tidak diizinkan hidup lebih lama. Di usianya yang ke-35, ia menghembuskan nafas terakhir karena sakit yang tak bisa disembuhkan. Mozart meninggal dunia dalam keadaan miskin dan karirnya jatuh. Pemakamannya dilakukan amat sederhana. Tak beberapa lama setelah kematiannya, nama Mozart kembali berkibar dan musiknya terus hidup hingga sekarang.

Semua kisah tentang Mozart, saya telusuri dari rumah Mozart ini, sebuah apartemen besar dengan banyak ruangan di dalamnya. Beberapa lantai di apartemen itu sampai sekarang tetap ditinggali oleh beberapa penduduk lokal yang memang berkantong tebal. Sementara bekas tinggal Mozart dan keluarga digunakan sebagai museum dan dibuka untuk umum.

Sayangnya, pengunjung tidak diizinkan berfoto di dalam rumah Mozart. Alasannya untuk melindungi benda-benda peninggalan Mozart, termasuk tulisan-tulisan komposisi musiknya yang asli.

Bermain-main dengan musik dan suara di Haus der Musik

Dari luar, tidak ada yang istimewa dari bangunan Haus der Musik ini. Namun begitu sampai di dalam, ini adalah tempat yang sangat menyenangkan untuk kami sekeluarga, terutama untuk anak-anak seperti Zola. Pameran interaktif musik dan suara dikemas dengan cerdas.

Anak-anak bukan hanya belajar mengenal musik secara khusus, tapi diajak mengenal bunyi-bunyian secara umum. Haus der Musik ini adalah museum suara interaktif yang menggunakan pendekatan baru untuk mengenalkan musik secara ilmiah, bukan sekedar dianggap ‘senang-senang’ atau hobi saja.

Museum ini terdiri dari 6 lantai dan masing-masing lantai mengusung tema tertentu. Di lantai dasar disediakan tempat berkumpul para pengunjung dan kelompok tour. Grand piano tampak berdiri kokoh di bagian sudut pelataran karena di sudut inilah konser kecil sering diadakan. Di lantai pertama bertema Vienna Philharmonic, mengusung cerita tentang awal mula orchestra dunia. Di lantai kedua ditampilkan semua tentang Sonosphere. Ini bisa dibilang sebuah galeri suara. Segala suara di sini dijelaskan sebab dan akibat yang ditimbulkan. Lantai ketiga adalah cerita tentang komposer-komposer besar yang mendunia. Sementara lantai keempat dan kelima adalah tentang teater musik dan area panggung pertunjukkan, ruang para pemusik berekspresi menunjukkan skill nya.

Berikut cuplikan beberapa video hasil penelusuran kami di Haus der Musik :

Untuk informasi lebih detil dan harga tiket sila klik di sini , di sini , dan di sini. Transportasi menuju ketiga lokasi itu pun sangat mudah, masing-masing saling berdekatan satu sama lain. Asyik yaa ! I love Vienna, the city of music !

Happy plesiran ! 🙂

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s