Drama lupa passpor. Terima kasih untuk Singapore Airlines !

Dalam setiap pengalaman plesiran kami, drama selalu saja muncul. Kali ini, drama nya benar-benar membuat panik dan semaput. Bagaimana tidak, tertinggal passpor begitu sampai di bandara bikin jantung rasanya mau copot, deg-degan campur panik meratapi kebodohan diri sendiri. Passpor itu sebenarnya bukan tertinggal, tapi memang sama sekali tidak terpikirkan untuk dibawa. Mungkin saya benar-benar lelah atau gagal fokus karena kurang minum 😦

Ceritanya berawal ketika saya sudah berada dalam antrian masuk untuk pemeriksaan koper sebelum check in di bandara. Saya baru menyadari bahwa saya tidak bawa passpor ketika giliran pengecekan sampai pada saya dan Zola. Petugas pengecekan meminta saya melipir agar saya memeriksa semua tas, siapa tahu nyelip. Namun saya sangat yakin, saat itu passpor memang hal yang justru saya lupakan. Alangkah cerobohnya :((

Saat itu saya benar-benar dilanda panik luar biasa. Saya keluar antrian pengecekan bersama Zola menuju tempat antrian taksi sambil berusaha menghubungi supir ayah saya yang mengantarkan kami ke bandara. “Jurusan yang Anda hubungi sedang tidak aktif,” suara operator telpon semakin membuat saya semakin panik. Ayah dan adik saya yang saat itu berangkat bersama sudah berhasil check in duluan dan mengambil boarding pass. Sementara saya masih panik tak tahu dengan cara apa passpor bisa sampai ke tangan saya secepatnya.

Urung mengantri taksi, saya dan Zola balik lagi ke tempat antrian pengecekan dan meminta izin petugas agar saya bisa masuk untuk melapor ke check in counter Singapore Airlines. Dengan muka panik, saya mengatakan apa adanya kebodohan saya saat itu dan meminta pendapat ground staff apa yang sebaiknya saya lakukan. Ground staff, yang saya lupa menanyakan namanya saking paniknya, akhirnya menggeser penerbangan saya ke Singapura pukul 20.00 dari rencana semula pukul 18.00 agar saya punya waktu untuk memikirkan cara mengambil passpor di rumah. Saya merasa sangat dibantu para ground staff saat itu. Mereka menawarkan agar bagasi saya dititipkan di counter saja sampai saya juga diizinkan check in lewat dari pukul 19.00 kalau memang passpor saya belum ada juga.

Mas Riyanto, supir ayah, tetap masih belum bisa dihubungi. Adik saya berinisiatif menelpon Ilma, adik ipar saya yang masih di kantor. Saya berinisiatif menghubungi tante Ayos, tetangga sebelah rumah ayah. Saya berpikir sporadis, siapa saja saya hubungi yang sekiranya bisa membantu memcahkan masalah. Agak merepotkan memang :(. Masalah lain muncul karena passpor itu ada di apartemen saya dan kuncinya ada di mobil suami yang terparkir di rumah ayah. Alur yang cukup ruwet, tapi saya berusaha tetap berpikir semua akan baik-baik saja sambil terus berdoa “Innalladzi faradha ‘alaikal qur’ana laraadhuka ilaa ma’aad”. Doa yang dikirimkan suami yang sudah lebih dulu di Paris lewat whatsaap untuk dibaca sebanyak mungkin.

Sambil berupaya mencari titik terang, saya duduk di sebuah kafe, sambil numpang men-charge handphone yang batere nya sudah semakin lemah. Segelas coklat dingin yang sama sekali tidak bisa saya nikmati rasanya menemani saya dan Zola di detik-detik penantian apakah saya jadi berangkat atau tiket saya hangus begitu saja.

Ilma, adik ipar saya, untungnya bisa pulang lebih cepat dari kantor dan langsung menuju rumah ayah. Begitupun mas Riyanto yang akhirnya bisa dihubungi. Tante Ayos sudah lebih dulu sampai di rumah ayah membantu mencarikan kunci apartemen di mobil suami bersama teh ris, asisten rumah tangga di rumah ayah. Pada akhirnya, Ilma berduet bersama mas Riyanto menuju apartemen saya dan mencari passpor. Sempat kebingungan karena saya lupa letak persisnya si passpor. “Kalau gak di atas lemari baju, di meja kerja atau di dekat meja rias,” begitu instruksi saya. Aahh usia kepala 3 seorang emak-emak ini, rasanya kemampuan mengingat semakin berkurang.

Ketemu ! Passpor saya dan Zola akhirnya sudah ada di tangan Ilma dan tinggal memikirkan bagaimana cara mengantarkannya ke bandara hanya dalam waktu kurang dari satu jam. Rumah ayah saya di Kebayoran Lama. Sementara saat itu, waktu menunjukkan pukul 18.00, waktunya lalu lintas padat orang pulang dari kantor. Seharusnya saya dan Zola sudah berangkat. Tapi passpor belum juga di tangan. Tadinya mas Riyanto mau naik ojek pangkalan saja, nyatanya ojek juga sulit dicari. Dengan yakin, mas Riyanto dan Ilma ngebut naik mobil dengan merencanakan plan B, kalaupun nanti macet di tol bandara, biasanya ada ojek-ojek yang menawari di pinggiran tol untuk bisa sampai menghindari macet.

Saya masih harap-harap cemas, Zola sudah terus menanyakan kapan kita berangkat. Sambil menunggu, saya minta Ilma memoto halaman depan passpor dan visa saya dan Zola. Sebelum Ilma tiba, saya melapor kembali ke check in counter SQ dan menunjukkan foto halaman depan dan visa itu.

“Kaaaak !” Suara Ilma memanggil-manggil saya sambil mengayunkan poche putih gading, tempat saya menyimpan passpor dan sim internasional, di udara. Waktu menunjukkan hampir pukul 19.00. Alhamdulillaaaaaah. Langsung saya lari menghambur, memeluk dan mencium adik ipar saya itu :D, tidak lupa mengucapkan terima kasih juga ke mas Riyanto yang sudah ikut berkontribusi meluruskan keruwetan ini. Passpor pun tiba pada waktunya.

Tanpa menunggu lama lagi, saya dan Zola bergegas kembali ke counter check in dan menunjukkan passpor dan visa schengen kami yang asli. Mbak-mbak ground staff ikut tersenyum sumringah atas drama yang berakhir dengan bahagia ini. “Akhirnya yaa bu !” katanya. Saya dan Zola pun berlari menuju boarding gate.

Pukul 19.20 waktu boarding yang tertera di boarding pass untuk keberangkatan ke Singapura. Saya hanya punya waktu sekitar 20 menit menuju boarding gate dan hanya 50 menit transit di Singapura untuk bergabung bersama ayah dan adik saya yang sudah lebih dulu sampai dan mengejar pesawat kami berikutnya ke Paris.

Tulisan ini dibuat demi mengingatkan saya dan juga orang-orang yang mudah lupa agar kebodohan seperti ini tidak perlu terjadi lagi. Terima kasih sangat untuk ground staff Singapore Airlines dan Singapore Airlines yang telah menggeser jadwal penerbangan saya tanpa tambahan biaya sedikitpun.

I love flying with Singapore Airlines !

Happy plesiran ! 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s