Pilihan Traveling dan Prioritas Hidup

Saya tergelitik menulis ini karena sebuah komentar “gila lu kaya amat, jalan-jalan teruuuuus.” Mendengar komentar itu saya lantas hanya tersenyum dan mengamini ucapannya. Semoga memang jadi kernyataan, bisa panjang umur dan kaya raya uang gak berseri. Untuk apa ? Supaya bisa melanjutkan traveling keliling dunia dan kelebihan uangnya bisa disumbangkan. Begitu kira-kira cita-cita saya. Amiiin, semoga Tuhan mengabulkan.

Traveling. Inilah cita-cita saya sejak dulu. Sejak kecil saya nyaris tidak pernah ke mana-mana tapi saya memendam hasrat ingin ke mana-mana. Sejak masih single, saya gak pernah absen kalau urusan pergi-pergi ke sana-ke mari, hampir semua ajakan piknik saya iyakan. Saya dulu punya sifat sangat sulit menolak ajakan jalan-jalan (kayanya sampai sekarang :D). Sampai ibu saya harus mengelus dada menahan syok ketika saya bilang “bu, pokoknya nanti aku kalau sudah SMA, jangan dilarang kalau mau pergi-pergi yaa.” atau “suatu hari nanti aku menikah, punya anak dan membangun keluarga di Paris, lalu aku akan jalan-jalan keliling dunia.” Mata ibu hanya membelalak mendengar ucapan anak gadisnya.

Saya sempat ingin jadi diplomat. Bukan karena senang dengan diplomasi atau mau jadi PNS, tapi karena memungkinkan saya hidup berpindah-pindah di luar negeri :D. Alasan memilih pekerjaan sebagai jurnalis pun salah satunya karena jurnalis itu kerjanya gak pernah duduk diam di kantor.

Setelah menikah, hobi traveling tidak pernah bisa distop. Eh, saya malah bertemu suami yang punya hobi sama. Jadilah kalau ada waktu senggang, pasti kami jalan-jalan, icip-icip kuliner di sana dan di sini. Dulu uang beasiswa kami di Paris seadanya, jadi jalan-jalan pun seadanya, tapi intinya kami tetap jalan-jalan. Hamil dan punya bayi tidak menghalangi saya jalan-jalan : eksplor kota paris sampai ke pinggirannya, keliling museum, icip-icip makanan, dan keliling beberapa negara Eropa. Sampai rekan kerja saya, orang Paris, dulu terkejut karena dia baru tau ada France Miniature di Paris setelah saya ceritakan saya sudah ke sana.

Sampai ketika pulang dari Paris, saya baru sadar, kami tidak punya tabungan karena uangnya habis buat jalan-jalan dan makan-makan :D. Dari situlah saya mulai melek keuangan, tapi tetap tidak bisa menghilangkan hobi jalan-jalan.

Tiba kembali ke tanah air, traveling tetap tidak bisa lepas dari kebutuhan. Selama empat tahun kami tidak piknik ke luar negeri, karena memang prioritas hidup kami saat itu adalah “getting settled.” Kami harus punya tempat tinggal sendiri. Tidak ke luar negeri, bukan berarti lantas tidak ke mana-mana. Karena kami sudah punya Zola, orientasi piknik berubah ke family friendly destination. Berbagai tempat main anak-anak kami datangi setiap weekend, bukan ke mall yaa. Weekend kami waktu itu adalah weekend tanpa mall. Museum demi museum dihampiri, camping, hiking kebun teh, berenang, main ke kebun binatang, mampir ke perpustakaan anak, dan lain-lain. Sekali lagi intinya : jalan-jalan !

Tiba waktunya kami sudah bisa menyicil sebuah apartemen mungil dan sederhana, prioritas hidup kami pun sedikit demi sedikit bergeser. Destinasi wisata kami dari daerah jabodetabek dan sekitarnya (paling jauh Surabaya), lantas bergeser ke Belitung. Itulah destinasti terjauh kami setelah tiga tahun pindah dari Paris ke Jakarta.

Dari dulu sampai saat ini dan semoga saja terus begitu, kami tidak pernah memprioritaskan hidup untuk membeli barang-barang yang tidak fungsional, beli barang-barang branded atau barang-barang printilan hanya sekedar untuk aksesoris misalnya (baca : shopping). Entah kenapa, shopping tidak pernah membuat saya happy, kalau jalan-jalan, iya ! 🙂

Baju, sepatu, tas, aksesoris ini itu kami beli kalau butuh saja. Misalnya beli baju Zola karena sudah kekecilan, beli baju saya dan suami karena ada kebutuhan pekerjaan. Aksesoris malah nyaris tak pernah beli. Kalau urusan make up, saya cukup beli di drugstore saja lah. Mainan untuk zola ? Saya suruh dia menabung dari uang saku yang saya berikan setiap bulan untuk membeli mainan yang dinginkannya. 🙂

Nongkrong di kafe ? Kalau suami karena kebutuhan meeting, maka nongkrong di kafe jadi amat sering. Kalau saya, tidak perlu lah nongkrong di kafe kalau tidak ada kebutuhan mendesak dan berguna, kecuali butuh inspirasi atau butuh waktu sendirian menyelesaikan pekerjaan. Setelah jadi ibu dan merasa waktu jadi amat sedikit, saya cukup memilih dengan siapa saya akan hang out bareng. Untuk apa saya menghabiskan waktu dan uang hanya untuk sekedar basa-basi tapi tidak happy atau ingin dianggap bagian atau ingin dianggap punya banyak teman :). Prinsipnya, saya hanya akan hang out dengan teman-teman yang saya merasa nyaman berkumpul bersama mereka.

Kini, setelah enam tahun pindah dari Paris, traveling tetap menjadi prioritas hidup. Destinasi wisata kami mulai bisa bergeser ke tempat-tempat lebih jauh. Karena saya sudah agak melek tentang keuangan, maka ketika gaji pak suami ditransfer, investasi menjadi prioritas utama – investasi di dunia dan di akhirat. Saya merasa tidak cukup tangguh dan berbakat jadi entrepreneur, saya cukup jadi investor saja :D. Saya pun mulai belajar tentang berbagai instrumen investasi, termasuk menanam saham. Orang-orang nabung di bank, saya nabung di saham. Di rumah tangga, saya lah sang menteri keuangan.

Bukan hanya investasi keuangan untuk masa depan, kami juga tak ragu keluar uang untuk investasi pengembangan diri : ikut kegiatan atau kursus-kursus, membeli buku-buku import, dan menghadiri beberapa conference dan seminar menarik dan penting.

Jadi, dari kehidupan tidak punya penghasilan, berpenghasilan sedikit, sampai sekarang penghasilan nambah lagi, kami tetap meyakini, traveling itu adalah soal prioritas, bukan hanya milik orang-orang kaya raya, buktinya kami sampai saat ini belum kaya raya, tapi traveling bisa jalan terus :D.

Traveling itu tak harus ke luar kota, ke luar negeri, nginep di resort atau ke tempat-tempat wisata yang ‘wah’. Definisi traveling buat kami adalah pergi ke tempat-tempat yang berbeda dari rutinitas atau melakukan sesuatu kegiatan yang tidak pernah dilakukan sebelumnya di luar rumah.

Ketika kebutuhan hidup mendasar – sandang, pangan, papan – cukup terpenuhi (tak perlu mewah dan mahal), maka traveling menjadi kebutuhan sekunder kami di samping pendidikan :). Saya jadi teringat satu pesan motivasi, habiskan masa muda atau produktif mu kini dengan hal-hal yang sangat ingin kamu lakukan, karena inilah saatnya kamu punya uang, tenaga dan jiwa petualang yang membara. Sibuk dan tak punya waktu bukanlah alasan, selama yang kamu inginkan menjadi prioritas. Di kala tua nanti, hadapilah kenyataan bahwa meskipun kamu punya uang banyak, jiwa dan tenaga sudah tak muda lagi.

Happy plesiran ! 🙂

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. finaisme says:

    Travelling itu investasi, menambah wawasan dan kesenangan. Hati senang, batin kaya, hidup bahagia :))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s