Inilah yang menarik dari Bali Timur

Setelah perjalanan ke Bali Selatanrafting di ubud, plus menikmati tidur dengan hamparan sawah, juga eksplorasi pulau Nusa Penida, kami melanjutkan perjalanan menjelajah Bali Timur. Kenapa sih kami memilih Bali Timur ? Percaya kan kalau saya bilang semua sudut di pulau Bali itu terlalu sayang jika tidak disinggahi ? Kalau dikasih waktu plesiran sebulan di pulau dewata ini dengan budget tak terbatas, sih, saya mau banget mengeksplor pulau Bali dari Bali Selatan ke Bali Utara, dari Bali Barat ke Bali Timur 😀

Setelah melihat, menimbang, memilih, apakah Bali Timur juga ok untuk Zola (8 tahun), maka diputuskanlah Bali Timur menjadi salah satu tujuan destinasi kami kali ini.

Seperti kota-kota di Indonesia pada umumnya, maka transportasi publik di pulau Bali juga sama menyedihkannya. Jadi memang paling nyaman menyewa kendaraan sendiri. Bahkan taksi pun, termasuk taksi online, tidak melayani trip sampai ke Bali Timur. Saya punya rekomendasi sewa mobil (tanpa supir) yang harganya bersahabat dan pemiliknya amat baik. Tak perlu banyak persyaratan, cukup pakai KTP saja dan sebutkan hotel tempat menginap. Silakan hubungi saya bagi yang berencana menyewa mobil di Bali. 🙂

Bali Timur memang bergelimpang sejuta pesona tak kalah menarik dengan Bali Selatan. Inilah secuil diantaranya :

1.Pemandangan sawah, gunung dan laut jadi satu.

Kalau di Bali Selatan, bertebaran pantai-pantai, dan di Ubud, bertebaran sawah-sawah, di Bali timur, ada sawah, gunung, dan juga laut. Paket lengkap ! Perjalanan menanjak dan berkelok-kelok bukanlah halangan sama sekali, malah suatu hal yang patut disyukuri, karena di kanan dan kiri pemandangan indah semua.

This slideshow requires JavaScript.

Siapa tak senang hati kalau dalam perjalanan saja sudah disuguhi pemandangan hijau gunung dan sawah juga biru laut yang saling berbatasan. Perjalanan sekitar dua sampai tiga jam dari Sanur pun tidak terasa.

Memang sih banyak melintas truk-truk sepanjang perjalanan, tapi percayalah supir truk di sini amat sopan dan tahu diri, bukan tipe supir truk yang gemar ugal-ugalan. Justru sebaliknya, truk-truk sepanjang jalan ini jalannya seperti siput.

2. Masih sepi turis dan tinggal dekat dengan penduduk lokal

Kalau di Bali Selatan sudah sangat penuh turis, maka di Bali Timur masih sepi. Buat yang senang keramaian, mungkin di sini kurang cocok. Buat kami, ini sempurna ! :). Tapi tenang saja, supermarket, restoran, warung di sini banyak kok. Tak perlu khawatir.

Jalan-jalan di sini juga masih kecil dan tidak banyak mobil melintas, seperti jalan perkampungan, dan yang terpenting bebas macet !

3. Pilihan penginapan dengan view laut bukanlah eksklusif

Kalau di Bali Selatan, resort yang menghadap ke laut mungkin bisa terbilang eksklusif, karena itulah mahal sekali harganya. Sementara di sini, berderet pilihan penginapan dari hostel sampai hotel bintang 5 yang menghadap ke laut, terutama sepanjang jalur Candidasa, Amlapura sampai Jemeluk dan Amed. Harganya juga masih terjangkau. Kami menginap di Aquaterrace Hotel, Amed, dengan memanfaatkan diskon genius member dari booking.com. Di hotel ini, saya seolah-olah sedang berada di Santorini dengan view Bali 😀

This slideshow requires JavaScript.

4. Surga snorkeling dan diving untuk semua level, dari beginner hingga advance

Lokasi tempat kami menginap, Amed, adalah surga untuk para diver. Tak heran sepanjang jalan menuju Amed, banyak sekali berderet diving center / diving course. Tinggal dipilh. Belum pernah nyoba diving, tapi ingin ? Di sinilah tempat kami pertama kali menjajal diving. Kami tidak mengambil sertifikasi diving, hanya ikut kelas introductory saja dipandu oleh master dive yang sangat berpengalaman. Lalu Zola ? Meskipun ada juga kelas bubble maker khusus untuk anak-anak, tidak di laut tapi di kolam khusus, namun Zola lebih memilih untuk ikut bersama kami. Sementara kami belajar diving, Zola asyik snorkeling bersama seorang snorkeling guide.

5. Pilihan obyek wisata yang berbeda

Main di pantai, jalan di pematang sawah, hiking ke gunung, melihat pura, nonton Barongsai, watersport, mungkin itu semua sudah biasa ditemui jika kita ke Bali. Tapi bagaimana kalau mendatangi tempat pemandian keluarga raja dan istana tempat peristirahatan Raja Karangasem yang berada di gunung, menghadap laut dan sempat rusak akibat letusan gunung agung ?

Tirta Gangga

Tirta Gangga dibangun oleh Raja Karangasem tahun 1948 sebagai tempat pemandian untuk keluarga raja dan para tamu nya. Terinspirasi setelah pulang dari perjalanan ke istana Versailles di Prancis, raja lantas langsung membangun Tirta Gangga. Tirta Gangga sempat hancur akibat letusan gunung agung, namun kembali dipugar sekitar tahun 60-an. Yang terkenal di sini adalah kolam labirin dengan banyak ikan di dalamnya. Anak-anak, juga orang dewasa, senang sekali merasakan sensasi berjalan di atas kolam sambil memberi makan ikan. 

Kolam tempat pemandian raja itu sampai saat ini bisa digunakan para turis untuk mandi. Ketika kami ke sana, memang ada beberapa turis yang baru saja selesai berendam. Kami memang tidak berencana berendam di sini, karena belum percaya diri ditonton turis-turis lain 😀

Taman Ujung Karangasem

Tempat ini adalah tempat peristirahatan Raja Karangasem dan keluarganya. Oleh orang Belanda, dulunya dikenal sebagai water palace. Bisa dibayangkan kalau istana, pemandian, dan tempat peristirahatan raja terletak terpisah-pisah dan masing-masing memiliki luas berhektar-hektar. Saya semakin paham kenapa /Rif berandai-andai jadi raja. Hahaha 😀

Taman ujung Karangasem ini saja dulunya memiliki luas 400 hektar, namun kini tinggal 10 hektar saja. Istana ini juga mengalami kerusakan akibat letusan Gunung Agung, namun sudah dipugar kembali.  

Water palace dibangun atas prakarsa I Gusti Gde Djelantik, raja sekaligus seorang arsitek andal yang sangat pintar. Istana ini memiliki gaya campuran antara eropa dan cina di setiap sudutnya. Kini, daerah Karangasem ditinggali banyak pendatang, khususnya dari Lombok yang mayoritas memeluk agama Islam. Memang berdasarkan penuturan Bli Lanang Raka, asisten pengelola Taman Ujung Karangasem, dulunya ketika Kerajaan Lombok menyerah dari Kerajaan Karangasem, Raja Karangasem membuka pintunya untuk masyarakat Lombok tinggal di Bali.

 

fullsizeoutput_3b97
Bersama Bli Lanang Raka. Beliau banyak bercerita tentang sejarah Water Palace
img_1889
Bekas reruntuhan letusan Gunung Agung dibiarkan seperti ini. Kini, tempat ini sering dijadikan lokasi foto prewed.

 

Nah, itu baru secuil loh keindahan dari Bali Timur. Pasti masih banyak lainnya yang belum sempat saya eksplor karena keterbatasan waktu. Jadi, tak perlu ragu sekalian melipir ke Bali Timur.

Happy plesiran ! 🙂

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s