Mengapa perlu mengajak anak ke museum ?

Museum mungkin masih terkesan terlalu serius dan kurang fun untuk sebagian orang. Tapi sebenarnya banyak hal dan aktivitas menarik di museum. Hal yang terpenting juga adalah harganya cenderung murah dibandingkan atraksi hiburan lain. Ini paling penting buat mamah menteri keuangan yang segala sesuatu dilihat dari kacamata harga 😀 , Sudah murah, meriah pula. Terasa seperti dapet jackpot.

Hidup di Jakarta tidak berarti setiap weekend harus berwisata ke mall. Disamping membuat bangkrut, tentunya nuansa yang juga begitu-begitu saja berakibat bosan. Sewaktu kegiatan weekend nya tidak sepadat merayap seperti sekarang, kami sering mengajak Zola berkeliling museum. Minggu ini museum A, minggu depan museum B, minggu depannya lagi museum C. Hampir semua museum-museum di Jakarta pernah kami kunjungi. Museum di Monas, TMII, museum Gajah, museum layang-layang, museum POLRI dan masih banyak lagi. Anak akan bosan ? Haaaah tentu tidak !

Umur berapa anak bisa diajak ke museum ?

Saya sudah mengajak Zola ke museum di Paris sejak usianya 7 hari 😋. Waktu itu sehabis melahirkan saya bosan di rumah. Lagipula ada ayah saya sedang berkunjung dan pastinya mau jalan-jalan keliling Paris. Jadilah saat itu kami jalan-jalan ke Musée du Louvre. Meskipun memang gak berhasil sampai masuk keliling museum sih, prestasinya saat itu baru sampai pelataran saja :D, haha. Tak apalah namanya juga usaha. Percobaaan berikutnya waktu usia Zola sekitar 7 bulan, kami mengajaknya ke museum Versaille, lalu berturut-turut setelah itu ke museum Rodin, tempat berbagai pahatan patung karya seniman pematung Auguste Rodin, kemudian ke museum Grevin, museum lilin mirip museum Madame Tussaud, museum Albert Kahn dan pastinya Museum Louvre. Sampai saat ini semua perjalanan ke museum baik-baik saja, tidak ada drama cranky karena bosan, barang pecah karena dibanting, atau yang lainnya.

Hingga kini, setiap ada kesempatan plesiran ke luar Jakarta, baik itu dalam maupun luar negeri, agenda wajib kami salah satunya adalah mengunjungi Museum. Dari mulai Bogor, Bandung, Surabaya, Bau-bau, bahkan sampai ke luar negeri seperti Belanda, Jepang, Belgia, Swedia, dan lain-lain. Apalagi sekarang usia Zola sudah 8 tahun, lebih banyak pengetahuan yang dia serap, tentunya diiringi dengan pertanyaan-pertanyaan yang jadi PR tersendiri buat orang tuanya.

img_5927
Mendengarkan dengan seksama 🙂
12417871_10153794196723110_3007514711801931251_n-1
Menelusuri jejak-jejak pengeboman di Memorial Museum Hiroshima
Memangnya anak kecil sudah mengerti diajak ke museum ?

Waktu usianya masih satu tahun sudah pasti belum mengerti lah. Kalau Zola dijelaskan apa fungsi mikroskop atau siapakah Jackie Chan lengkap beserta sejarah hidupnya, sudah tentu dia akan pergi ngeloyor meninggalkan bunda nya kemudian asik dengan benda-benda yang lain. Museum itu ibarat playground, anak-anak akan melihat, memandangi, menyentuh, mengeksplorasi sekitarnya. Semua informasi itu akan terserap ke otaknya. Tidak, dia tidak akan mengerti sekarang juga, tapi ini bagian dari investasi pembelajarannya di masa nanti. Di usia nya sekarang ini (8 tahun) dia sudah lebih bisa memahami dan excited dengan segala cerita bersejarah di museum .

Sebenarnya untuk apa mengajak anak kecil ke museum ?

Banyaaaaak sekali manfaat yang bisa didapatkan dengan mengajak anak ke museum. Saya sendiri bisa merasakan manfaatnya sekarang. Apa saja itu ? Penjabaran saya di bawah ini tentulah belum semuanya, masih banyak manfaat lainnya yang mungkin bisa ditambahkan di kolom komentar 😀

  • Pengalaman dan Eksplorasi

Untuk anak segala usia, datang ke museum adalah pengalaman baru dalam hidupnya dan tentunya eksplorasi. Mungkin mereka belum mengerti keseluruhan. Namun lingkungan edukatif lewat peragaan yang interaktif bisa menstimulasi rasa ingin tahu, dengan mulai melihat, menyentuh dan merasakan. Untuk pengalaman pertama, carilah museum yang tidak sensitif pada anak kecil (barang-barangnya aman disentuh dan tidak mudah rusak). Ketika diajak ke Museum Grévin di Paris, Zola menyaksikan dan menyentuh patung-patung lilin. Tidak tahu apa yang dipikirkan saat itu. Namun dia sangat menikmati melihat patung menyerupai orang tapi tidak bergerak itu. Pengalaman seperti ini bisa jadi pembelajaran berharga mengenal seni patung lilin.

  • Membangun kreativitas, imajinasi dan critical thinking

Dasar kreativitas, imajinasi dan critical thinking bisa dibentuk lewat museum. Waktu zola ke museum layang-layang di sana dia belajar membuat layang-layang dan menggambarnya berdasarkan imajinasinya. Bukan cuma layang-layang, ada juga membuat payung, wayang dan kerajinan dari tanah liat. Begitu juga sewaktu ke museum Polri. Tiba-tiba saja dia bermain peran sebagai polisi yang siap siaga ketika dibutuhkan.

img_0535
Kapan lagi bisa naik mobil polisi kalau gak di Museum Polri 😀
  • Mengenal sejarah masa lalu dan teknologi masa depan

Museum itu tidak serta merta berkaitan dengan masa lalu loh. Di sebuah museum teknologi di Chiba Institute of Technology, Jepang, dipamerkan teknologi-teknologi yang sedang dikerjakan mahasiswa-mahasiswa Chiba Institut di Jepang. Pamerannya interaktif sehingga memungkinkan Zola terlibat di dalamnya, misalnya masuk dalam ruang pesawat yang memantau kehidupan di Mars, belajar memahami perputaran tata surya lewat layar sentuh, dan sebagainya.

  • Membuka mata tentang perspektif dan ide yang berbeda

Di museum anak bisa belajar tentang perbedaan. Contohnya sewaktu kami mengunjungi berbagai anjungan daerah TMII, Zola melihat bahwa setiap propinsi di Indonesia memiliki sesuatu yang khas. Contoh lain lagi ketika pada liburan lalu kami ke Museum Louvre, Zola mengeksplorasi peradaban budaya mesir, eropa dan oriental. Jangan berpikir jelimet dulu. Ia hanya menyaksikan ragam pameran sambil sesekali bertanya benda-benda yang menarik perhatiannya. Apalagi sewaktu dia melihat secara langsung mummy yang selama ini hanya bisa dia lihat lewat buku. Ia sangat takjub. Setiap peradaban dan kelompok manusia memiliki cara yang berbeda-beda. Di sini, Zola belajar tentang perbedaan dan semoga nantinya ia bisa menghargai perbedaan.

img_0536
the real mummy di Musée du Louvre
  • Membuka ruang diskusi antara anak dan orangtua dan membangun rasa ingin tahu

Ketika orangtua mengajak anak ke museum, mereka meluangkan waktu bersama-sama, melihat-lihat obyek yang dipamerkan, cerita di balik benda-benda itu. Saya sebenarnya dulu tidak begitu tertarik ke museum. Namun lama kelamaan ternyata masuk museum itu menyenangkan. Saya jadi tahu banyak cerita dari museum. Maka saya ceritakan apa yang saya tahu ke Zola dan biasanya itu akan membuka ruang ngobrol, minimal dia akan bertanya untuk apa benda ini ? Atau dari mana benda ini ? Terbuat dari apa ? Akhirnya rasa ingin tahunya pun terbangun.

Jadi gak usah ragu ajak anak-anak ke museum sejak dini.

Happy plesiran ! 🙂

 

 

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. mysukmana says:

    baru tau kalau ternyata da museum polri 😀 #kudet

    Like

    1. Sheika Rauf says:

      Adaaaaa. Udah lama itu

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s