Gamla Stan, sudut kota tua Stockholm

Badan masih oleng, mata ngantuk tak tertahankan, tapi kota tua Stockholm memang gak bisa dilewatkan. Badan oleng bukan tanpa alasan. Malam sebelumnya, kami bermalam di kereta. Terbayang kan, semalaman tidur dengan goyangan kereta. Sampai tiba di Stockholm pun putaran bumi ikut terasa.

Tapi harus dipaksa karena terlalu sayang  dilewatkan. Dari pemandangan alam yang spektakuler dengan gunung-gunung yang menghimpit laut di Fjord, kini mata kami beralih ke sebuah kota tua dengan arsitektur bangunan Eropa di abad pertengahan. Inilah negara scandinavia terakhir yang kami kunjungi setelah Denmark dan Norwegia.

Timbul sesal karena jatah menginap di Stockholm hanya semalam, padahal list tempat-tempat wisata yang ingin dikunjungi sangat banyak . Tak boleh serakah dan ambisius, mau tidak mau memang harus memilih. Pilihan pun jatuh pada Gamla Stan.

Saat itu malam minggu, muda-mudi berkumpul di kafe, mengobrol dan tertawa. Tidak terlalu ramai sebenarnya untuk ukuran sebuah ibu kota di malam minggu. Kami menyusuri gang-gang di antara bangunan-bangunan tua yang didominasi warna merah bata,  dan kuning.

Ada cerita sendiri ternyata di balik warna merah dan kuning ini. Dulunya, kaum bangsawan merasa perlu tampil beda dari masyarakat proletar dengan mengecat rumah-rumah mereka dengan cat merah dan sedikit putih di ujung-ujungnya. Cat merah pada saat itu memang cukup mahal harganya. Namun keadaan ekonomi berubah, pada abad ke-18, harga cat merah menjadi sangat murah pengaruh pergeseran harga dari tambang tembaga. Kaum proletar pun ingin meniru para bangsawan dengan mengecat rumahnya menjadi merah seperti rumah para bangsawan. Tentu saja, kaum bangsawan tidak ingin sama dengan kaum proletar. Mereka pun kembali mengubah warna rumah menjadi kuning. Gak penting ya kelakuan bangsawan saat itu 😀

Gamla Stan adalah cikal bakal kota Stockholm. Nama Stockholm sebenarnya merujuk pada suatu tempat yang dikenal sebagai Gamla Stan saat ini. Stockholm sendiri ditemukan oleh sekelompok pemimpin Swedia tahun 1252 yang akhirnya memutuskan untuk memindahkan ibu kota Swedia dari Sigtuna ke Stockholm, karena saat itu keamanan di Sigtuna mengkhawatirkan akibat sekelompok orang bersenjata. Lama kelamaan, Stockholm mengalami pemekaran kota, bukan hanya Gamla Stan, tapi menjangkau daerah-daerah sub-urban.

Karakter gang-gang di Gamla Stan ini jalanannya berbatu dan menyempit di ujung jalannya. Sayangnya, kami tidak sempat menyusuri lebih jauh gang-gang di Gamla Stan ini. Bahkan, kami tidak berjodoh dengan tur pencari hantu di pelosok-pelosok gang Gamla Stan. Takut ? Tidak ada yang lebih menyeramkan dari hantu-hantu Asia, sebut saja Sadako sampai kuntilanak.

street_in_gamla_stan_stockholm
Satu sudut di Gamla Stan (sumber foto : wikipedia.org)
rectangle_big_retina
Stockholm Ghost Walk, salah satu tur pencari hantu yang menjadi atraksi wisata  (Sumber foto : http://www.visitstockholm.com)

Tujuan utama melewati gang-gang ini sebenarnya cari makan. Perut sudah kasih kode dari sore. Zola sudah terlalu lelah dan akhirnya minta digedong. Ya sudahlah, memang hasrat untuk mengeksplorasi gang-gang Gamla Stan lebih dalam harus ditunda. Entah sampai kapan. Berarti memang harus balik lagi ke Stockholm ! :D, Yang penting perut diisi dulu. Lucunya, sudah jauh-jauh ke sini, pilihan restoran kami pun jatuh pada restoran Thailand. Kenapa ? Lagi-lagi karena harus makan pakai nasi, pakem hidup ayah saya.

img_9173
Menu dinner di Stockholm : Tom Yam pake nasi
img_9224
Sehabis makan pulang, langsung tidur di hotel kapal ini. Bukan mengurangi, malah nambah oleng kalau begini.

Hari sudah berganti, kami harus meninggalkan Stockholm sore hari. Rencana tempat wisata yang akan dikunjungi hari itu adalah Vasa Museum, salah satu icon kota Stockholm yang menyimpan cerita tenggelamnya kapal Vasa, kapal perang terbesar yang pernah dibuat masa itu, akibat raja yang terlalu jumawa. Cerita tentang Vasa akan saya ceritakan nanti. Ini salah satu museum favorit Zola.

Sambil berjalan menuju Vasa Museum, kami sempat foto-foto beberapa bangunan-bangunan khas Swedia yang didominasi warna merah dan kuning, termasuk Gereja tua yang juga dicat warna merah.

img_9409
Salah satu bangunan berwarna merah yang warnanya sudah agak pudar
img_1577
Gereja tua bercat merah pudar
img_9392
Pelabuhan di Stockholm
img_9389
Trem, salah satu moda Transportasi di Stockholm

Berat sekali rasanya harus segera meninggalkan Stockholm. Eksplorasi nya belum optimal. Sampai bertemu lain waktu. Semoga berjodoh kembali dengan kota cantik ini. Lain kali mari kita berburu hantu di Gamla Stan !

img_3048
Adjö (Good bye) Stokholm ! Til we meet again…

 

Happy plesiran ! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s