Jelajah alam dramatis di kampung viking, Fjord, Norwegia (part 3-the end)

Tiap detik waktu di Fjord ini dilewati dengan sangat menyenangkan. Breathtaking moment ! Saya jadi bertanya-tanya apakah penduduk di sini pernah mengalami stress atau jika pernah stress, apa yang menyebabkan mereka stress. Ternyata jawabannya adalah stress mereka timbul ketika musim liburan tiba dan banyak turis yang datang ke sini, “jadi bikin macet”, kata salah seorang penduduk. Sebanyak apa turisnya ? Semacet apa ? Masih kalah jauh dengan musim liburan long week-end jakarta – Bandung deh ☺️.

Sepadat-padatnya turis yang datang ke Fjord pada musim liburan kali ini, rasanya masih banyak sekali space untuk kami berlima. Masih banyak ruang untuk koprol, salto, loncat di udara, lembar lembing, you name it, apa saja masih bisa ! Saking sepinya, menurut ukuran kami warga Jakarta, kami pun tidak malu-malu pose begini tanpa takut diliat orang, karena memang gak ada siapa-siapa lagi. Aneh ! Jadi ke mana perginya turis-turis yang kata penduduk sini bikin stress karena memadati Fjord saat musim liburan ?

Di Fjord ini kami menginap di dua tempat yang berbeda. Bukan karena sengaja, tapi memang sudah tidak ada penginapan lagi yang bisa ditempati untuk dua malam berturut-turut saat musim liburan. Turis-turis yang datang sebenarnya tidak terlalu memenuhi Fjord, tapi penginapan yang tersedia sepertinya juga tidak begitu banyak. Jadi sedikit sulit mencari kamar kosong. Itulah yang membuat kami menginap dua malam di Fjord di dua tempat berbeda.

Bjorgo Gard – Aurland

Malam pertama kami menginap di sebuah rumah pedesaan yang sengaja disewakan. Letaknya agak jauh dari stasiun flam, sekitar 20 menit naik mobil. Rumah ini saya sewa melalui booking.com dan bisa menampung sampai delapan orang. Tentang penginapan ini, sudah diceritakan sebelumnya di sini (jangan lupa untuk mengintip cerita bagian pertama nya juga). Menginap di Aurland ini memang agak jauh dari peradaban, tidak ada supermarket, jarang sekali mobil lewat. Ada rumah-rumah tetangga tapi pemiliknya tidak pernah terlihat di luar rumah.

Aktivitas yang bisa dilakukan yang pasti tidak jauh dari hiking, camping, cycling atau sepedaan. Mau sky diving pun bisa, tapi jangan ditanya harganya. Sekali terbang bisa merogoh lebih dari 8 juta rupiah untuk satu orang. Semoga lain waktu kalau Zola sudah lebih besar dan rezeki juga membesar, kami bisa sky diving bersama. *Amiin yang kenceng*. Turun ke bawah mendekati laut bisa main cano. Tapi yaa sekali lagi, harganya sungguh menguras kantong.

Lokasi penginapan cukup dekat dengan Stegastein viewpoint, sekitar 15 menit jalan kaki atau 30 menit langkah kaki anak-anak. Ini adalah tempat populer di mana para turis bisa melihat pemandangan dari atas Fjord, 650 meter dari permukaan laut. Bahkan untuk bisa ke sini, tersedia shuttle bus tour khusus dari Flam – Aurland – Stegastein pulang pergi. Karena dari lokasi penginapan ke sini bisa ditempuh jalan kaki, maka sekitar pukul 6 pagi, kami sudah jalan kaki dari penginapan ke tempat ini.

 

Jarak ke sini untuk anak-anak memang lumayan jauh dan melelahkan, jadi saya harus pintar-pintar membuat hiburan atau permainan di jalan biar si anak gak bosan, ngambek dan ujung-ujungnya minta gendong. Kalau masih balita bisa bawa stroller atau setidaknya kalau digendong pun masih kategori ringan. Sementara usia Zola saat itu sudah hampir 8 tahun, kalau minta gendong, bisa encok pinggang dibuatnya. Dengan perlahan tapi pasti, tanpa mengejar waktu, ditambah hiburan sekreatif mungkin, kami bisa juga kembali ke penginapan dari stegastein tanpa drama berarti.

Gudvangen Fjordtell

Dari Aurland pindah ke Gudvangen berarti melihat pemandangan dari sisi yang berbeda. Kalau Aurland letaknya ratusan meter dari permukaan laut, sebaliknya Gudvangen terletak dekat dengan permukaan laut, terhimpit oleh pegunungan. Untuk bisa sampai ke Gudvangen, kami harus kembali lagi ke pelabuhan Flam dengan kapal ferry dan membeli tiket bus ke Gudvangen. Ferry tidak menjadi pilihan kami lagi karena waktu tempuhnya lumayan lama, hampir 2,5 jam. Sementara naik bus dari flam ke gudvangen hanya memakan waktu 20 menit. Lebih cepat tapi tidak ada pemandangan yang dapat dinikmati karena bus melewati lorong-lorong di bawah kaki gunung.

Ternyata shuttle bus ini membawa kami langsung ke hotel. Letak hotel ini bisa dibilang strategis. Berbeda dengan penginapan kami sebelumnya yang jauh dari peradaban, di sini malah lengkap dengan restoran dan toko suvenir.

Soal kenyamanan jangan ditanya.  Pemandangan juga gak kalah cantiknya.

Keramahan staff ? Mereka memang tidak semurah senyumnya para staff hotel di negara-negara Asia, tapi ketika tamu memiliki kesulitan, mereka siap membantu. Seperti ketika kunci koper saya patah pada saat mau check out, saya meminta bantuan receptionist dan ia langsung memanggil salah satu tukang untuk mencabut patahan kunci yang tertinggal di dalam lubang kunci koper saya.

img_1478
Patahan kunci koper yang berhasil dikeluarkan

Sepertinya saya gak perlu banyak cerita lagi, kecuali meninggalkan momen-momen yang berarti. A picture is worth a thousand words. Sebuah gambar mewakili ribuan kata-kata. Rasanya tak ingin cepat pulang dari sini. Selamat menikmati ya ! 🙂

 

img_1410
Pemandangan dari balkon kamar

This slideshow requires JavaScript.

img_1499
Ciyeee pacaran ciyeee 😉
img_8708
Can’t take my eyes off you

Happy plesiran ! 🙂

 

 

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. mysukmana says:

    Pemandangan keren udara dingin..
    Ciye ciuman…:)

    Like

    1. Sheika Rauf says:

      Ciyee ciyeeee 😄😄

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s