Jelajah alam dramatis di kampung viking, Fjord, Norwegia (part 2)

“Halo ! Selamat datang. Anda Sheika, yang akan menginap di rumah kami di Bjorgo Gard?” sapa pemilik rumah yang akan kami tempati ketika menjemput kami di pelabuhan Aurlandsvangen. Hangat dan bersahabat, jauh dari kesan Viking yang kasar dan barbar.

Saya memang sudah mempersiapkan sendiri hampir segalanya untuk perjalanan ini, termasuk meminta penjemputan di pelabuhan saat kami tiba di Aurland, Fjord. Alasannya, rumah tempat kami menginap letaknya lumayan jauh dari pelabuhan, tidak ada bus ke sana. Kalaupun ditempuh dengan berjalan kaki bisa memakan waktu sekitar dua jam. Ah, pasti gempor mengingat lokasi rumah berada di atas gunung. Sudahlah, kasihan betis ini, ditambah saya plesiran bersama anak 8 tahun dan kakek 64 tahun.

Mau naik taksi pun saya kurang percaya diri karena katanya taksi harus reserve dulu beberapa hari sebelumnya dan harganya bisa sampai 750 NOK atau 1.200.000 IDR sekali jalan. Belum lagi, hasil bertanya di forum trip advisor, ada traveler yang cerita kalau ia dicurangi supir taksi di Aurland. Males banget kan…

“Memang dasar viking !,” katanya di forum itu.

Siapa, sih, viking itu sebenarnya ?

Di antara kita pasti ada yang sudah akrab dengan viking, minimal pernah nonton film Thor dan mengenal siapa itu dewa Odin. Itulah semua penggalan-penggalan kisah viking. Viking sempat berjaya sebagai kelompok yang paling ditakuti se-benua Eropa sekitar abad ke-8 sampai ke-10. Mereka lebih dikenal sebagai perompak ulung dan pantang pulang sebelum menang.

Mereka sendiri gak pernah menyebut diri mereka sebagai Viking. Viking adalah sebutan orang-orang pada masa itu untuk mereka. Berasal dari kata vikingr, dalam bahasa skandinavia kuno, yang artinya perompak atau bajak laut, ditujukan untuk bangsa skandinavia, tepatnya untuk orang-orang dari utara, yaitu bangsa Norwegia. Pekerjaan mereka, katanya, kalau tidak bertengkar dengan tetangga – Denmark dan Swedia – bisa juga menginvasi tanah bangsa lain. Ada juga yang bilang kalau Viking ini juga nenek moyang bangsa Denmark dan Swedia, juga Jerman. Yang jelas, geng perompak legendaris Goths and Vandal dari Jerman itu, aslinya berasal dari Skandinavia.

Sering dengar, kan, kata vandalisme ? Kata ini berarti suatu sikap kebiasaan merusak yang kejam dan penistaan terhadap segala sesuatu yang indah dan terpuji. Vandalisme memang ditujukan untuk bangsa Vandal alias orang-orang Viking ini. Gothic pun kini digambarkan sebagai sesuatu yang gelap, keras, kasar, identik dengan setan. Padahal awalnya Gothic itu untuk menyebut bangsa Goth. Sebegitu parahnya kah kelakuan barbar orang viking ini ?

Entahlah, tapi setidaknya selama kami berkeliling negara-negara skandinavia, bukan perlakuan barbar yang kami dapatkan dari keturunan-keturunan viking ini, namun sebaliknya sikap ramah, terbuka, sopan, dan kepercayaan tinggi pada sesama. Mungkin ada segelintir, tapi untungnya bukan menjadi bagian dari pengalaman kami bertemu keturunan viking yang barbar.

Antara negara-negara Skandinavia : Norwegia, Swedia dan Demark, masing-masing saling klaim berasal dari nenek moyang Viking di abad pertengahan. Namun dari ketiga negara yang kami kunjungi, Norwegia paling kental aura Vikingnya. Sejak awal menginjakkan kaki di Oslo sampai ke Fjord, banyak ditemukan icon viking, seperti ini misalnya.

img_9051
Kapak, icon khas Viking dan senjata paling terkenal. Monumen ini ada di Oslo dekat stasiun kereta
img_1415
The little viking :D, di toko souvenir yang menjual beraneka ragam benda-benda khas viking

Viking memang terkenal sebagai bangsa yang barbar. Setidaknya itu kata musuh-musuh mereka. Kelompok bajak laut ini berinvasi besar-besaran di benua Eropa, bahkan mereka menyebar sampai ke seluruh penjuru dunia, sebut saja Rusia, Iceland, Irlandia, Inggris, Jerman, Prancis, sampai ke Atlantik, bahkan Amerika dan Kanada. Bangsa Viking punya pengaruh besar dalam sejarah dan mitologi orang barat.

Karena pengaruh kuat sebagai bangsa pelaut yang bermigrasi dan menemukan daerah-daerah koloni baru (Amerika ditemukan lebih dulu oleh Viking daripada Columbus, loh !), mungkin Viking jadi dikenal sebagai bangsa yang gemar perang dan barbar. Tapi dibalik semua image itu, Viking sudah memiliki kebudayaan tinggi, pelaut yang andal, petani yang produktif, seniman dengan selera seni tinggi dan storyteller yang baik.

img_1426
Perahu bangsa Viking

 

d23p14509t4
Perahu yang pernah digunakan Viking pada abad pertengahan di Museum Viking, Oslo. Sumber foto : http://www.visitnorway.com

Viking punya alasan kenapa sifat mereka dikenal keras dan barbar. Bisa jadi karena alam yang memaksa mereka begitu, jika tidak, mereka lah yang dikalahkan oleh alam. Bayangkan saja, kontur geografi yang memiliki banyak gunung, dipisahkan oleh laut, dan iklimnya yang didominasi oleh cuaca dingin dan bersalju, bahkan sering ekstrem. Pilihannya : menjadi tangguh atau mati !

img_8714
Terhimpit di antara gunung-gunung
img_1361
Alam liar Viking, meskipun musim panas tetap dingin dan bersalju
img_8347
Dari atas gunung
img_8558
Pegunungan dengan banyak air terjun

Perjalanan 20 menit naik mobil dari pelabuhan ke penginapan kami di Bjorgo Gard, Aurland, tidak terasa karena penjemput kami yang juga pemilik rumah banyak bercerita tentang Fjord, aktivitas-aktivitas apa saja yang bisa dilakukan selama di sana, tempat wisata yang menarik sampai sampai mengingatkan bahwa kami perlu berbelanja groceries dulu sebelum sampai di atas, karena tidak ada satupun supermarket ataupun pasar.

Jadilah kami semua mampir di sebuah supermarket tidak jauh dari pelabuhan Aurlandsvangen untuk berbelanja bahan makanan sebelum menuju penginapan. Yang bikin hati tambah senang adalah ada beras di supermarket ini ! Tak perlu risau tak bertemu nasi selama dua hari ke depan deh. Cihuy ! 😀

img_1311
Di mobil jemputan 🙂

Akhirnya sampai juga…

Setelah berbelanja groceries di supermarket dan ditemani dengan beraneka dongeng dari penjemput kami – yang saya lupa namanya siapa. Haha 😀 – sampailah kami ke sebuah rumah desa dari kayu di pegunungan Aurland. Jalan untuk mencapai rumah ini melalui jalan setapak yang hanya bisa dilalui satu mobil dan tidak beraspal. Saya merasa keputusan saya meminta jemput adalah keputusan benar setelah melihat kondisi lapangan. Kalau tidak, kami bisa nyasar.

Penginapan ini memiliki 4 kamar dan bisa ditempati hingga 10 orang. Kalau pergi beramai-ramai, asyik banget menginap di sini. Pemilik pun akan dengan senang hati akan meminjamkan perangkat barbecue juga kalau mau bakar-bakar ikan, ayam atau daging di sini. Ah senangnya !

Perut tiba-tiba lapar, saya harus segera menyiapkan makan malam dari bahan-bahan yang dibeli di supermarket tadi. Tidak ada yang istimewa, hanya masak nasi saja kok, lauknya tinggal digoreng ! Namanya juga lagi liburan, males amat masak jelimet. 🙂

Tentang kondisi rumahnya seperti apa, ada video amatir hasil saya dan zola mengeksplorasi isi rumah. Silakan disimak ! 🙂

Makanan sudah siaaap ! Saatnya makan malam dan berisitirahat. Ada petualangan seru selanjutnya. Silakan klik di sini untuk semakin menikmati. Untuk cerita bagian pertama silakan simak di sini. 🙂

Happy plesiran ! 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s