Gowes di Copenhagen, Denmark, terasa lebih spesial

Kring..kring..kring…bel sepeda sengaja saya bunyikan, bukan untuk memberi tahu pengguna jalan lain bahwa saya ingin lewat, tapi tanda keriangan saya yang sedang menikmati momen bersepeda keliling kota tanpa rasa was was terserempet kendaraan bermotor atau menabrak pejalan kaki. Agak norak yah. Hahaha 😀

Tapi memang iya, senang sekali bersepeda di Copenhagen ini. Kota di Denmark, salah satu negara Scandinavia ini memang terkenal dengan keramahannya terhadap pengguna sepeda. Seperti di kota-kota di negara Eropa lain pada umumnya, sepeda memang menjadi moda transportasi masyarakat kota, bukan sekedar untuk olahraga atau rekreasi. Mobil ? Ah lupakan saja, selama masih bisa ditempuh dengan bersepeda.

Dandan rapi dan tetap wangi meskipun bersepeda itu bukan suatu hal yang gak mungkin di kota-kota di Eropa. Masyarakat Eropa sangat gemar bersepeda, ke kantor, ke rumah teman, ke bioskop, ke pasar, ke mana saja dengan bersepeda. Ini didukung pula oleh infrastruktur yang memadai, setidaknya ada jalur sepeda yang aman.

Di antara kota-kota Eropa yang ramah sepeda, sebut saja Amsterdam dan Paris, sepertinya Copenhagen ingin membuat para pesepeda ini merasa lebih spesial. Tidak cukup hanya dengan jalur sepeda, pemerintah setempat Copenhagen juga membangun jembatan sepeda, seperti the kissing bridge,  yang selesai dibangun pada tahun 2013. Jembatan ini hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki dan pesepeda, dan ini bukan satu-satunya jembatan khusus pesepeda dan pejalan kaki di Copenhagen, ada beberapa yang sudah lebih dulu dibangun, bahkan katanya infrastruktur untuk pesepeda ini akan terus dikembangkan.

Ketika saya googling, kota teramah mana saja untuk bersepeda, Copenhagen selalu menjadi juaranya, salah satunya seperti yang dilansir situs ini. Julukan kota teramah di dunia untuk pesepeda diraih oleh Copenhagen, disusul Amsterdam. Pantas saja !

Banyak hasil penelitian sosial, ekonomi, lingkungan dan kesehatan menyebutkan bahwa urban cycling ini sebenarnya sangat menguntungkan untuk perkotaan. Bahkan sebuah studi di Denmark menyatakan bahwa setiap bersepeda sejauh satu kilometer, masyarakat bisa menghemat sekitar 23 cents atau sekitar 3000 IDR. Pemerintah Denmark sangat menyadari bahwa investasi pada infrastruktur sepeda adalah sebuah kemajuan modern dan cerdas.

Sekarang coba kita buktikan tulisan saya ini, kenapa Copenhagen memperlakukan pesepeda dengan sangat istimewa. Kan katanya, no photo, hoax ! :))

Jalur Sepeda Khusus

Jalur sepeda di Copenhagen dibedakan dari jalur pejalan kaki, bus dan mobil. Biasanya setelah trotoar besar untuk pejalan kaki, ada tiga jalur jalan raya : jalur pertama khusus untuk sepeda, lengkap dengan lampu merahnya, jalur kedua untuk bus dan jalur ketiga untuk mobil. Kalau jalan raya tidak dilalui bus, jalur setelah jalur sepeda biasanya dipakai untuk tempat parkir mobil. Sudah pasti aman deh bersepeda di sini. Jalurnya benar-benar khusus untuk sepeda.

Tempat Parkir Sepeda di Commuter Line

Mau bawa sepeda ke dalam kereta ? Gak jadi masalah. Di dalam kereta sudah disediakan tempat parkir sepeda khusus dengan penahan roda di depannya, sehingga sepeda tidak akan terjatuh meskipun kereta sedang berjalan. Memang bagi penumpang yang membawa sepeda, dikenakan biaya tambahan lagi, tapi lebih murah dibandingkan jika harus membayar ongkos bis untuk berpindah-pindah tempat. Lagipula kalau naik bis kan masih harus menunggu datangnya bis dulu di halte yang datang setiap 10-15 menit sekali. Cukup menyita waktu !

Jembatan khusus untuk pesepeda dan pejalan kaki

Niat pemerintah Copenhagen membuat pesepeda merasa spesial tidak hanya sampai disediakannya jalur khusus untuk pesepeda dan pejalan kaki, tetapi juga menyediakan jembatan-jembatan khusus pesepeda dan pejalan kaki yang menghubungkan antara satu tempat ke tempat lain, bahkan menghubungkan antar pulau.

Memang Copenhagen ini kaya akan perairan, jadi di mana-mana ada air. Ya iyalaah :D, Pindah dari satu tempat ke tempat lain kalau tidak ada jembatan, sudah pasti tidak mungkin ! Makanya, dibangunlah jembatan-jembatan khusus pesepeda dan pejalan kaki, seperti the kissing bridge ini atau sebutan lokal nya, Inderhavnsbro. Jembatan ini menghubungkan pelabuhan Nyhavn dengan distrik Christianshavn, tempat penulis terkenal Hans Christian Andersen pernah tinggal.

Jembatan ini disebut kissing bridge karena memang seperti berciuman di saat membuka dan menutup. Ini dimaksudkan agar kapal-kapal di bawahnya tetap bisa lewat. Jadi jika ada kapal hendak lewat, maka jembatan sepanjang 180 meter ini ditutup, sementara pesepeda dan pejalan kaki mengantri menunggu giliran lewat.

IMG_0965
Kota macet Copenhagen. Macet karena sepeda ! :D, Orang-orang mengantri menunggu jembatan dibuka

 

Selain the kissing bridge, ada juga circle bridge yang juga dibangun di atas air. Bentuknya melingkar, cantik sekali. Selain fungsinya, design jembatan juga sangat diperhatikan. Circle bridge (Cirkelbroen) ini dibuka untuk publik pada Agustus 2015, menghubungkan sekitar area Christiansbro dan Appelbys Plads.

382_16301-1
Circle bridge (Cirkelbroen). Sumber foto : http://www.visitcopenhagen.com
382_16300
Design circle bridge yang cantik. Sumber foto : http://www.visitcopenhagen.com

Jembatan pesepeda populer lainnya yakni bryggerbroen, jembatan pertama yang dibangun di atas pelabuhan Copenhagen, menghubungkan distrik Vesterbro dengan pulau Brygge. Jembatan ini memiliki panjang 190 meter dan lebar 5,5 meter.

IMG_3095
Bryggerbroen, jembatan antar pulau. Sumber foto : http://www.visitcopenhagen.com

Tidak puas dengan brygge bridge (bryggerbroen), pemerintah membangun perpanjangannya dengan bentuk mengular atau populer disebut snake bridge (cykeslangen bro). Jembatan ini dibangun sesuai dengan target pemerintah menjadikan Copenhagen sebagai kota terbaik di dunia untuk pesepeda.

cykelslangen-06
The snake bridge, perpanjangan dari bryggerbroen atau brygge bridge. Sumber foto : http://www.visitcopenhagen.com
IMG_7717
Melintasi the snake bridge

Penyewaan sepeda self-service ber-GPS

Karena sepeda sudah menjadi alat transportasi masyarakat Copenhagen, maka di setiap sudut kota, saya dengan mudah menemukan tempat penyewaan sepeda self-service. Penyewa bisa menggunakan kartu kredit. Masukkan saja data pengguna kartu kredit dalam layar sentuh di depan stir. Bukan hanya itu saja, layar sentuh itu pun menyediakan GPS, loh ! Tinggal gowes, deh, tak perlu takut nyasar. Sedangkan untuk pengembaliannya, tak harus dikembalikan ke lokasi semula, bisa di lokasi penyewaan sepeda serupa di mana saja.

IMG_8074
Penyewaan sepeda self-service tersebar di sudut kota
IMG_8083
Turis pun mudah menyewa sepeda 🙂
IMG_8082
Sepeda ber-gps lengkap dengan travel planner nya

Puas sekali rasanya. Pesepeda dan pejalan kaki di Coepenhagen diberikan hak-hak yang sama dengan pengguna kendaraan bermotor, bahkan lebih. Badan sehat, bebas polusi udara !

Happy plesiran ! 🙂

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s