Menikmati Pulau Buton, pulau yang tak pernah dijajah

Pulau Buton yang saya tahu sebelumnya hanyalah pulau penghasil aspal dan hanya bisa dilihat lewat peta buta. Siapa sangka, pada suatu kesempatan ada pekerjaan yang membawa saya ke sana. Karena kesempatan jarang datang dua kali, saya pun meminta suami dan anak saya menyusul.  Jadi setelah pekerjaan selesai, kami bisa lanjut plesiran.

Pulau buton ini adalah pulau yang tidak pernah dijajah Belanda. Bahkan, baik Kerajaan maupun Kesultanan Buton dulunya dikenal sebagai sahabat Belanda. Raja maupun Sultan pernah membuat perjanjian kerjasama dengan Belanda.

Awalnya Buton berbentuk kerajaan. Kemudian pengaruh islam masuk ke pulau Buton dan mengubah pemerintahan menjadi kesultanan buton. Sementara kota Bau-bau sendiri adalah cikal bakal berdirinya kerajaan Buton. Di sinilah berpusat kerajaan Buton.

Dari kota Bau-Bau ini kita bisa mengakses Pulau Buton melalui bandara Betoambari. Kota ini sering dijadikan tempat transit, selain Kendari, untuk mereka yang ingin ke Wakatobi.

Sayangnya untuk transportasi dalam kota agak sulit. Penyewaan mobil dari rental amat jarang, namun ojek cukup populer meskipun tidak banyak juga. Kalau plesiran bersama anak sebenarnya paling aman menyewa mobil. Tapi pastikan sudah mendapatkannya sebelum tiba di bandara kota Bau-Bau. Karena kalau tidak, tidak ada tumpangan taksi sama sekali di sana.

Benteng Kerajaan Wolio 

Benteng kerajaan ini adalah benteng terluas dan terpanjang di dunia menurut catatan Guinness Book Record. Di dalamnya masih ada pemukiman penduduk asli Buton yang merupakan keturunan keraton. Benteng ini terletak di atas bukit. Jadi dari sini, Anda bisa menikmati pemandangan lepas ke arah kota, gunung dan laut.

Kalau berkunjung ke sini, jangan ragu hubungi tourist information center. Mereka akan sangat senang hati menemani dan bercerita tentang benteng walio dan kesultanan buton.

IMG_6665
Masjid di dalam Bentang Wolio. Masjid ini sering digunakan untuk bermusyawarah para pemuka adat
IMG_6676
Makam Sultan Muhrum, Sultan pertama Buton setelah Buton berubah menjadi Kesultanan

Sedikit cerita dari tour guide kami, ternyata, jauh sebelum demokrasi didengungkan, di kesultanan ini demokrasi justru sudah berkembang. Dibuktikan dengan pemilihan Sultan/Raja yang tidak selalu berasal dari keturunan raja langsung, bahkan bisa berasal dari luar keturunan raja.

IMG_7912
Setiap kali Sultan baru dilantik harus menginjak lubang ini. Lubang ini berbentuk menyerupai vagina yang bermakna bahwa dari sinilah segalanya berawal.

Selain itu yang menarik lagi, tidak seperti di tempat lain pada masa itu, di mana perempuan tidak pernah mendapatkan kesempatan yang sama dengan laki-laki, di Buton, perempuan justru dijadikan pemimpin. Dialah Putri Wakaka, Ratu pertama Kerajaan Buton, keturunan dinasti Khan dari Tiongkok. Bisa dibilang bahwa Kerajaan/Kesultanan Buton sudah memiliki peradaban tinggi di Nusantara.

IMG_6703
Rumah Sultan Buton yang sekarang masih digunakan untuk tempat tinggal keturunannya
IMG_6693
Rumah Sultan Buton yang dijadikan sebagai Pusat Kebudayaan Wolio
IMG_7920
Goa tempat Arupalaka bersembunyi dari kejaran Sultan Hasanuddin.

Goa Liang Kamoi

Banyak Goa yang bisa didatangi di Buton, salah satunya adalah Goa Liang Kamoi. Goa yang terletak di pinggir jalan ini tidak sengaja ditemukan oleh pekerja penghancur batu. Uniknya dari Goa ini, di tengahnya terbuka sehingga memungkinkan sinar matahari dan air hujan masuk. Karena itu tumbuhan pun bisa tumbuh di dalam sini. Goa ini pernah digunakan untuk syuting film Barakati, mencari jejak Kerajaan Majapahit di Pulau Buton, yang dibintangi Dwi Sasono, Fredi nuril dan Acha Septriasa.

Bukit Teletubbies

Bukan hanya di Blitar atau Malang, pulau buton juga memiliki bukit Teletubbies juga loh. Letaknya tidak jauh dari Goa Liang Kamoi. Dari atas sini pemandanganya luar biasa indah.

Pantai Lakeba

Playground di Pantai Lakeba. Harga makanannya cukup mahal

Pantai ini sebenarnya cocok jika dibangun semacam resort, tapi sayang hanya ada restoran di sini. Itu pun satu-satunya restoran di daerah ini. Pantai ini punya banyak potensi tapi sayang tidak dimanfaatkan optimal.

Pantai Nirwana

Ini salah satu pantai populer di Buton, letaknya tidak jauh dari kota Bau-bau. Pantainya memang indah, pengunjung bisa membludak di akhir pekan, tidak hanya dari Bau-Bau. Dulu katanya ada fasilitas penyewaan alat untuk water sport, tapi karena kurang bisa merawatnya sekarang sudah tidak ada lagi.

Kawasan Hutan Lambusango

Ingin sesuatu yang beda ? Eksplor saja hutan Lambusango ini, Kalau kami sih cukup di bagian depannya saja, gak ada nyali untuk ke dalam. Katanya banyak sekali satwa liar di dalam, seperti ular, monyet dan hewan lainnya, tentunya berbahaya karena kami tidak ada persiapan apapun dan tidak mengantongi izin pemerintah setempat.

Hutan ini adalah hutan konservasi, banyak peneliti lokal maupun luar negeri menjadikan hutan ini sebagai laboratorium, meneliti tanaman-tanaman baru yang tumbuh di sini.

Tambang aspal Buton

Akhirnya, selang 20 tahun lebih saya mengenal Pulau Buton sebagai penghasil aspal hanya lewat buku, kali ini kami benar-benar menjejakkan kaki di lokasi tambang aspal. Oooh ternyata seperti ini bentuk tambang aspal Buton. Aspal Buton paling terkenal  di dunia dan sudah diekspor ke manca negara. Anak saya, Zola, jadi tau dari mana asal aspal untuk jalanan itu dan dia senang sekali main-main di atas gunungan aspal itu.

Desa Lasalimu

Desa ini memang agak jauh dari Kota Bau-bau, kurang lebih 2 jam perjalanan tanpa macet. Kami menghabiskan waktu lebih banyak di perjalanan daripada waktu untuk menikmati lokasi ini, meskipun memang banyak tempat indah yang bisa dieskplor, misalnya danau lasalimu ambuau dan pantai koguna. Ada juga desa wisata, namun karena hari hujan, kami tidak jadi berkunjung ke sana.

Danau Lasalimu Ambuau, tempat mainnya sapi-sapi 🙂

Keindahan tersembunyi Pantai Koguna

Pantai koguna ini sebenarnya indah sekali. Jalan masuk ke pantai ini harus melalui hutan pinus. Namun sayangnya, banyak sampah berserakan di sekitar hutan pinus sehingga menimbulkan bau.

Kampung Bali

Dalam perjalanan menuju desa Palabusu, rumah teman kami, yang pernah saya ceritakan di sini, kami sempat turun melihat-lihat kampung Bali, komunitas masyarakat Bali yang sudah menetap di Pulau Buton. Masyarakat bali ini kemudian membuka lahan dan bertani di Buton.

Bukit Wantiro

Menjelang sore atau malam, mampir lah ke bukit wantiro, menikmati sunset dan makanan khas Bau-Bau, gorengan dan Saraba. Uniknya, gorengan di sini selalu disajikan bersama sambal, bahkan untuk pisang goreng sekalipun.

1156126Suasana-Bukit-Wantiro-di-sore-hari.-Sinar-matahari-terlihat-indah-780x390
Senja di Bukit Wantiro, sumber foto : travel.kompas.com
IMG_7651
Penganan di Bukit Wantiro, gorengan dan saraba, minuman jahe khas pulau buton

Parende Mama Jana

Kalau ke Bau-Bau, belum sah kalau belum menikmati sup ikan parende Mama Jana ini. Parende adalah salah satu makanan khas orang Buton, dan rumah makan Mama Jana adalah parende terkenal di Bau-Bau. Kebetulan saya ke sana juga dalam rangka meliput parende Mama Jana ini. Segar sekali rasanya. Saya biasanya tidak suka sup ikan, tapi kali ini gak menyesal mencobanya. Enaaaaak !

Begitulah trip pertama kami ke Indonesia Timur. Sebenarnya masih banyak lagi yang bisa dieskplor dari Pulau Buton ini, tapi waktu traveling Desember 2015 lalu, hanya tempat-tempat ini yang sempat kami datangi. Yuk, jangan ragu trip ke Buton !

Happy plesiran ! 😊

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s